News  

Ini Akibat Ekspektasi Berlebihan ke Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa: Rakyat Jadi Korban PHP!

Rasa-rasanya rakyat sudah mendidih. Geram bercampur marah. Utang Whoosh yang digembar-gemborkan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa tidak ditanggung APBN ternyata hanya PHP.

Persis dengan omongan Jokowi dulu. Ini omongan Jokowi tahun 2015 lalu. Setahun setelah menang curang atas Prabowo di 2014. Jokowi yang dijuluki mahasiswa UI dengan “The King of Lip Service” benar adanya.

Ngerinya lagi. Penyakit Jokowi suka berbohong menular. Bukan hanya ketika berkuasa. Pasca lengser 20 Oktober 2024 lalu penyakit Jokowi menular ke rezim Prabowo. Menteri-menteri Prabowo ramai-ramai mengikuti kebiasaan buruk Jokowi; Bohong.

Jokowi maupun para pembantunya kompak bersuara. Diucapkan berungkali. Publik ingat betul! Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung adalah murni dilakukan BUMN.

“Menggunakan skema business to business (B to B),” kata Jokowi dan para pembantunya itu. B to B artinya biaya investasi sepenuhnya berasal dari modal anggota konsorsium dan pinjaman dari China. Dana juga bisa berasal dari penerbitan obligasi perusahaan.

Purbaya Yudhi Sadewa yang sempat memukau publik karena ngotot tidak mau bayar utang Whoosh dari APBN. Faktanya: Purbaya Yudhi Sadewa sama dengan Jokowi. Mencari perhatian publik dengan PHP seluruh rakyat Indonesia.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi yang menjungkirbalikkan drama Purbaya Yudhi Sadewa. “Utang Whoosh Rp1,2 triliun ditanggung APBN,” kata Prasetyo Hadi.

Dua hari lalu, Prasetyo Hadi, orang kepercayaan Prabowo memastikan utang pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh dibayar menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Prabowo Subianto sebelumnya berkomitmen untuk membayar utang Whoosh sebesar Rp1,2 triliun per tahun. “Iya (bayar utang Whoosh pakai APBN),” kata Prasetyo di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (10/2).

Rakyat tidak lupa dengan drama Purbaya Yudhi Sadewa yang berlagak seperti pahlawan. Berani menolak pembayaran utang Whoosh dari APBN.

Padahal apa yang Purbaya lakukan atas sepengetahuan dan persetujuan Presiden Prabowo. Tidak mungkin seorang pembantu presiden berjalan sendiri tanpa arahan dan petunjuk presiden. Termasuk Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Kuat dugaan bagian dari skenario Presiden Prabowo menjadikan gebrakan Menkeu Purbaya hanya alat kosmetik politik Presiden Prabowo untuk menutupi anjloknya citra Presiden Prabowo karena gagal mencopot Kapolri.

Bukan itu saja, setahun lebih 4 bulan Presiden Prabowo berkuasa masih banyak janji-janji politik Presiden Prabowo belum terealisasi seperti pertumbuhan ekonomi 8 persen, 19 juta lapangan kerja, 3 juta rumah, 200 fakultas kedokteran dan janji-janji manis lainnya. Program MBG dan Koperasi Merah Putih pun menimbulkan banyak masalah di lapangan.

Wacana yang dilontarkan Menkeu Purbaya tentang pembayaran angsuran dan bunga pinjaman kereta cepat Whoosh tidak menggunakan dana dari APBN terbukti hanya kosmetik politik.

Skema pembayaran utang dan bunga pinjaman Whoosh tetap dari APBN setelah Presiden Prabowo bertemu Presiden China Xi Jinping di KTT APEC di Korea, November 2025. Benar saja. Orang dekat Prabowo, Prasetyo Hadi telah memastikan utang Whoosh dibayar dari APBN.

Anda ingat mantan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang dipecat Jokowi gara-gara menolak proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dipanggil oleh Presiden Prabowo ke Istana.

Pertemuan Senin, 3 November 2025 di Istana memperkuat spekulasi adanya skenario cipta kondisi agar publik menerima kebijakan Presiden Prabowo menggunakan APBN untuk menyelesaikan pembayaran utang kereta cepat Whoosh pasca Prabowo bertemu Xi Jinping.

Berdasarkan informasi, hasil penjualan tiket kereta cepat Whoosh dalam setahun baru mampu mengumpulkan pendapatan kotor Rp1,5 triliun.

Sementara beban bunga pinjaman kereta cepat Whoosh saja Rp2 triliun per tahun. Belum termasuk angsuran utang pokok. Otomatis pokok pinjaman dan kekurangan bunga pinjaman terpaksa menggunakan sumber lain. APBN opsinya, Rp1,2 triliun itu seperti diungkap Mensesneg Prasetyo Hadi.

Inilah buah dari rakyat ekspektasi berlebihan terhadap gebrakan PHP Purbaya. Rakyat kecewa untuk kesekian kalinya.

Sampai kapan rakyat menonton drama kebohongan rezim yang diperankan elit penguasa negeri ini? Rezim tukang PHP. Uang rakyat habis hanya untuk tambal sulam bayar utang ambisi Jokowi.

Jakarta, 25 Rajab 1447/13 Februari 2026
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis