News  

Kemenag Sebut Pentingnya Perkuat Literasi Al Quran Lewat Media Digital

Kementerian Agama (Kemenag) menyebut pentingnya memperkuat literasi Al Quran melalui media digital sebagai sarana dakwah yang mencerahkan masyarakat.

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Muchlis M. Hanafi dalam acara pengukuhan dewan hakim Pekan Tilawatil Qur’an (PTQ) ke-55 1447 H di Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) pada Kamis mengatakan, Kemenag terus berkomitmen untuk bekerja sama dengan seluruh pihak dalam menguatkan literasi Al-Quran di tengah masyarakat.

“Kami melakukan pembinaan qari-qariah, hafizh-hafizhah, lembaga pendidikan Al-Quran, termasuk para penyuluh agama. Saat ini terdapat sekitar 29 ribu penyuluh agama Islam yang tersebar di seluruh Indonesia. Seiring perkembangan zaman, kita juga perlu memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah yang mencerahkan,” ujar dia.

Muchlis juga menyampaikan pentingnya kolaborasi seluruh pihak untuk menghadirkan Al-Quran sebagai suara bangsa, utamanya peran media dalam menyiarkan nilai-nilai Al-Quran untuk menguatkan kehidupan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

“Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak cukup hanya berbicara tentang bonus demografi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menanamkan nilai-nilai Qurani dalam setiap sendi kehidupan. Di sinilah pentingnya kegiatan Pekan Tilawatil Quran,” katanya.

Menurutnya, PTQ juga memiliki makna yang sangat strategis, bukan sekadar ajang kompetisi atau musabaqah, melainkan juga sarana pembinaan karakter.

Baca juga: Penguatan literasi Al Quran masih jadi tantangan pendidikan keagamaan

“Dari panggung ini, selama 55 tahun telah lahir para duta Al-Quran. Saya teringat ketika kecil, saat radio menjadi media utama, suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema melalui siaran RRI di bulan Ramadhan. Para qari dan qariah (pembaca Al-Quran) kita tidak hanya melafalkan ayat-ayat Al-Quran, tetapi juga menghidupkan pesan-pesan rahmat, keadilan, dan persatuan yang terkandung di dalamnya,” tuturnya.

PTQ yang telah digelar sejak 1968 itu menjadi ruang pembinaan, dakwah kultural, sekaligus penguatan nilai-nilai Al-Quran melalui media penyiaran publik. Pelaksanaan tahun ini dilakukan secara terpusat dan hybrid melalui tahapan audisi online serta Grand Final offline di Jakarta.

PTQ RRI ke-55 membuka empat kategori lomba, yaitu tilawah, tahfidz Al-Qur’an, tausiah, dan tartil sensorik netra. Pendaftaran peserta dibuka secara daring pada 9–16 Februari 2026, dan proses penilaian atau kurasi dilaksanakan pada 18–24 Februari 2026 secara terpusat menggunakan sistem digital untuk menjamin akurasi dan transparansi penilaian.

Kategori tilawah diikuti oleh peserta umum dari seluruh satuan kerja dan stasiun produksi RRI se Indonesia, sedangkan kategori tausiah, tahfidz, dan tartil sensorik netra merupakan utusan dari 17 koordinator wilayah RRI se-Indonesia. Total peserta yang telah terdaftar sebanyak 1.588, dengan batasan usia 17-30 tahun untuk kategori tilawah, tausiah, dan tahfidz, serta 17-35 tahun untuk kategori tartil sensorik netra. (Sumber)