Presiden Prabowo Subianto diminta menegur Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin terkait dugaan oknum jaksa yang menggunakan aset sitaan untuk kepentingan pribadi.
“Presiden harus mengingatkan jaksa agung,” kata Pakar Hukum Pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Ficar Hadjar ketika dihubungi Inilah.com, Senin (16/2/2026).
Menurut Ficar, Prabowo perlu mengambil langkah lebih tegas dengan mengganti Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin dari jabatannya.
“Kalau perlu menggantikannya,” ucap Ficar.
Ia menilai pernyataan Jaksa Agung yang mengungkap adanya oknum jaksa menggunakan aset sitaan untuk kepentingan pribadi telah merusak citra pemerintahan Prabowo Subianto di mata publik.
“Ya ini akan mengurangi kepercayaan publik pada pemerintah,” ucap Ficar.
Sebelumnya, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin mengakui adanya jaksa yang masih menempati aset sitaan untuk kepentingan pribadi. Pengakuan itu disampaikan saat peringatan Hari Ulang Tahun Badan Pemulihan Aset di Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Burhanuddin menyebut ada jaksa yang memakai barang sitaan seolah berharap aset tersebut lama-lama dilupakan.
Ia mencontohkan apartemen sitaan di Jakarta Pusat yang dikuasai jaksa, tanpa mengungkap asal perkara.
“Banyak aset-aset yang dimiliki oleh, bukan dimiliki oleh jaksa, ditempati oleh jaksa, dan diam-diam semoga lupa bahwa ada aset di tangannya,” ujarnya.
Fenomena tersebut, kata dia, tidak hanya terjadi di ibu kota tetapi juga di daerah. Padahal, jika digunakan, mekanismenya harus melalui skema pinjam pakai untuk operasional Kejaksaan.
“Coba apartemen-apartemen, silang telusuri, saya tahu persis, saya minta nanti yang tahu persis, yang pernah bicara dengan saya mungkin, Kejati DKI, kemudian dulu di Pidsus, Pak Sarjono Turin, tahu persis apa yang menjadi ada di tangan-tangan Kejaksaan Tinggi,” tuturnya.
Burhanuddin juga menyoroti banyaknya aset sitaan yang tercecer. Ia meminta Badan Pemulihan Aset segera membenahi pendataan dan pengelolaan agar tidak ada lagi barang rampasan negara yang mengendap tanpa kejelasan.
Ia mengingatkan jajarannya agar informasi daftar aset sitaan tidak bocor ke luar. Menurutnya, kebocoran data dapat memicu permintaan pinjam pakai dari berbagai pihak.
“Ada bupati yang minta ini, minta ini, ada yang dinas ini, dinas itu, minta ini. Dia tahu persis barangnya, tahu persis luasannya, tahu persis di mana tempat adanya dan tahu persis kondisinya. Ini kan malah harusnya kita pelihara, kita jual,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Burhanuddin meminta Kepala Badan Pemulihan Aset, Kuntadi, memastikan perawatan aset dilakukan secara maksimal agar nilai lelang tidak menurun.
“Saya mengharapkan, ini kan sudah bagus, saya di harapkan lagi, karena ini pasti debunya banyak, nanti harus pasang exhaust fan, kemudian ada tutupnya juga, mobil-mobil ini,” katanya.(Sumber)












