News  

Yusuf Blegur Sindir MBG: Miskin, Bodoh, dan Gemoy

Yusuf Blegur (IST)

Aktivis dan penulis opini, Yusuf Blegur, kembali melontarkan kritik sosial-politik melalui tulisan satir berjudul “Miskin, Bodoh, dan Gemoy (MBG)”. Dalam narasi bergaya dongeng politik, ia menyebut MBG bukan sebagai program, melainkan simbol menyatunya orang dan sistem dalam niat jahat yang mengorbankan rakyat dan negara.

Tulisan yang disampaikan dari Bekasi pada 3 Ramadan 1447 H atau 21 Februari 2026 itu menggambarkan sebuah “negeri di antah berantah” dengan sistem pemerintahan campur aduk—presidensial, monarki, sekaligus komunis. Menurutnya, sistem tersebut sarat kontradiksi: ada konstitusi tetapi praktiknya hukum rimba, demokrasi tetapi kental oligarki, serta nilai-nilai Pancasila yang disebutnya terhempas oleh gelombang asusila.

Dalam kisahnya, pemimpin negeri digambarkan terpilih bukan karena kapasitas intelektual atau integritas, melainkan karena kepiawaian beretorika, kelincahan pencitraan, dan kemampuan menghibur publik. Bahkan, ia menyebut sang pemimpin dengan istilah “gemoy”, merujuk pada citra yang dibangun untuk menarik simpati.

“Rakyat tidak ingin rumit dalam memilih pemimpin. Tak butuh intelektual, yang penting bisa membual. Tak perlu amanah dan adil, cukup pidato sambil mengancam,” tulisnya dalam narasi tersebut.

Lebih jauh, Yusuf menggambarkan relasi timpang antara penguasa dan rakyat. Ia menilai rakyat seolah-olah digiring pada sikap permisif: menerima pajak tinggi, aturan berlimpah, dan kondisi kerja berat, asalkan tetap diberi hiburan dan janji-janji kesejahteraan.

Ia juga menyoroti praktik manipulasi politik yang disebutnya tidak selalu menggunakan pendekatan represif, tetapi juga elaboratif dan kolaboratif—merangkul gerakan kritis, menggandeng figur publik, hingga memanfaatkan psikologi massa demi menjaga kekuasaan.

Dalam sektor pendidikan dan ekonomi, ia menyindir kondisi kurikulum yang sering berganti dengan anggaran terbatas, lapangan kerja sempit, serta fenomena anak muda terdidik yang memilih bekerja di luar negeri karena merasa tidak dihargai di tanah air.

Meski dikemas sebagai dongeng yang “bukan kejadian nyata tapi juga bukan fiksi”, tulisan tersebut sarat metafora yang mudah ditafsirkan sebagai kritik terhadap realitas politik kontemporer. Yusuf menutup kisahnya dengan gambaran rakyat yang larut dalam euforia “ok gas, ok gas”, tanpa menyadari kondisi kemiskinan dan kebodohan yang terus direproduksi oleh sistem.

Tulisan ini menambah daftar panjang kritik sosial yang belakangan marak disuarakan berbagai kalangan, terutama menjelang dinamika politik nasional yang kian menghangat.

Sebagai karya opini, “MBG” menjadi refleksi tajam tentang relasi kuasa, kesadaran publik, dan masa depan demokrasi—apakah tetap menjadi panggung dagelan, atau bertransformasi menjadi ruang keadilan yang sesungguhnya.