Sejumlah kritik tajam dilontarkan oleh Ahmad Khozinudin terhadap para pemimpin negara-negara Arab terkait hubungan mereka dengan Amerika Serikat. Dalam tulisannya, ia menyoroti pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman harus “tunduk” demi mendapatkan perlakuan baik dari Washington.
Khozinudin menilai, pernyataan tersebut bukan sekadar ditujukan kepada Mohammed bin Salman, melainkan mencerminkan sikap Amerika terhadap seluruh penguasa Arab yang selama ini dianggap bergantung pada kekuatan militer dan kebijakan luar negeri AS.
Ia menyoroti keberadaan sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah, seperti di Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Yordania, hingga Israel. Menurutnya, keberadaan pangkalan tersebut menjadi bukti ketergantungan keamanan negara-negara Arab terhadap Amerika.
“Seluruh pangkalan militer itu menunjukkan bahwa penguasa Arab selama ini bergantung pada Amerika, bukan untuk melindungi rakyat, tetapi menjaga kekuasaan mereka,” tulis Khozinudin, Selasa (7/4/2026).
Dalam analisanya, ia juga mengaitkan situasi ini dengan meningkatnya ketegangan kawasan, termasuk serangan terhadap beberapa fasilitas militer yang disebut-sebut melibatkan Iran. Kondisi tersebut, menurutnya, memperlihatkan bahwa kehadiran militer Amerika tidak sepenuhnya mampu menjamin keamanan sekutu-sekutunya.
Khozinudin juga menilai bahwa para pemimpin Arab kini menghadapi dilema geopolitik. Di satu sisi, mereka tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada Amerika. Namun di sisi lain, beralih ke kekuatan global lain seperti Rusia atau China juga dinilai berpotensi menciptakan ketergantungan baru.
Lebih lanjut, ia menyoroti dinamika aliansi global seperti NATO yang menurutnya tidak selalu solid dalam mendukung kebijakan Amerika, khususnya dalam konflik di Timur Tengah.
“Tidak ada aliansi yang benar-benar setia. Setiap negara akan kembali pada kepentingan nasionalnya masing-masing,” ujarnya.
Dalam penutupnya, Khozinudin mengingatkan bahwa perubahan politik di kawasan Arab bisa saja terjadi apabila masyarakat mulai menyadari kondisi tersebut. Ia menyebut kemungkinan munculnya tuntutan perubahan sistem pemerintahan sebagai konsekuensi dari ketidakpuasan terhadap penguasa saat ini.
Pernyataan ini menambah panjang daftar kritik terhadap hubungan negara-negara Timur Tengah dengan kekuatan global, khususnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.












