News  

Di Balik Pertemuan Prabowo dan Hisense, Pengamat: Ada Misi Besar Bangun Kekuatan Teknologi Nasional

Amir Hamzah (IST)

Langkah Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sejumlah menteri strategis di kediamannya di Kertanegara, Jakarta, untuk menyambut delegasi raksasa teknologi asal China, Hisense Group, dinilai bukan sekadar agenda investasi biasa. Pertemuan tersebut disebut sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia tengah membangun poros industri dan teknologi baru di kawasan Asia.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai langkah cepat Prabowo menunjukkan arah baru diplomasi ekonomi Indonesia yang lebih agresif dan berorientasi pada kekuatan industri strategis.

“Ini bukan hanya soal penandatanganan MoU bisnis biasa. Dari perspektif intelijen geopolitik, langkah Prabowo memperlihatkan Indonesia sedang memosisikan diri sebagai pusat manufaktur dan teknologi baru di Asia Tenggara,” ujar Amir Hamzah kepada wartawan, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Amir, kehadiran langsung Prabowo dalam pertemuan di Kertanegara memiliki pesan politik dan ekonomi yang sangat kuat bagi investor global. Apalagi, dalam agenda tersebut turut hadir sejumlah menteri strategis seperti Bahlil Lahadalia, Sugiono, hingga Sjafrie Sjamsoeddin.

“Kalau presiden langsung turun tangan dan mengumpulkan menteri ekonomi, pertahanan, luar negeri, sampai teknologi, artinya investasi ini dipandang sebagai proyek strategis nasional yang punya implikasi jangka panjang,” katanya.

Amir menjelaskan, dinamika geopolitik global saat ini sedang mengalami pergeseran besar akibat rivalitas ekonomi dan teknologi antara Amerika Serikat dengan China. Dalam situasi tersebut, Indonesia dinilai sedang memanfaatkan momentum untuk menarik relokasi industri dan transfer teknologi dari perusahaan-perusahaan besar dunia.

“Prabowo membaca momentum global dengan cepat. Dunia sedang mengalami perang teknologi dan perang rantai pasok. Indonesia tidak boleh hanya jadi pasar, tetapi harus menjadi basis produksi dan pusat teknologi regional,” jelasnya.

Ia menilai kerja sama antara Badan Pengelola Investasi Danantara dan Hisense berpotensi menjadi pintu masuk bagi penguatan industri elektronik, smart technology, hingga pengembangan ekosistem kecerdasan buatan dan perangkat digital di dalam negeri.

Dalam konteks intelijen ekonomi, lanjut Amir, masuknya perusahaan global seperti Hisense juga menunjukkan meningkatnya kepercayaan internasional terhadap stabilitas politik dan arah pemerintahan Prabowo.

“Investor global sangat sensitif terhadap stabilitas politik. Ketika perusahaan sebesar Hisense datang dan melakukan penjajakan serius, itu menandakan mereka melihat Indonesia di era Prabowo sebagai kawasan aman untuk ekspansi jangka panjang,” ujarnya.

Namun demikian, Amir mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berhenti pada seremoni penandatanganan nota kesepahaman. Ia menekankan pentingnya memastikan adanya transfer teknologi nyata, peningkatan kualitas tenaga kerja nasional, dan keberpihakan terhadap industri lokal.

“Yang paling penting adalah Indonesia jangan hanya menjadi tempat perakitan. Harus ada transfer teknologi, riset bersama, penguatan SDM nasional, dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri,” tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo menyaksikan langsung penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Danantara dan Hisense di kediamannya di Kertanegara, Jakarta, Jumat (15/5/2026).

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani bersama CTO Danantara Sigit Puji Santosa dan Chairman Hisense Group Jia Shaoqian.

Pemerintah berharap kerja sama strategis tersebut mampu memperkuat investasi nasional, membuka lapangan pekerjaan baru, mempercepat transfer teknologi, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia di tingkat global.