Pemimpin Redaksi Radaraktual.com, Rezha Nata Suhandi, mengecam keras tindakan militer Israel yang melakukan pencegatan dan penangkapan terhadap sembilan warga negara Indonesia (WNI) dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza, Palestina.
Dalam insiden tersebut, turut ditangkap empat wartawan media nasional yang sedang menjalankan tugas jurnalistik, yakni Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo serta dan Rahendro Herubowo (GPCI-iNewsTV, Berita1, CNN). Penangkapan dilakukan saat rombongan kemanusiaan berada di jalur perairan internasional menuju Gaza.
Rezha menilai tindakan Israel bukan hanya bentuk pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan internasional, tetapi juga ancaman serius terhadap kebebasan pers dan keselamatan jurnalis yang menjalankan tugas profesinya di wilayah konflik.
“Penangkapan terhadap sembilan WNI dalam misi kemanusiaan ini adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan secara moral maupun hukum internasional. Lebih memprihatinkan lagi, di antara mereka terdapat jurnalis Indonesia yang menjalankan tugas jurnalistik untuk menyampaikan realitas kemanusiaan di Gaza kepada dunia. Ketika jurnalis dibungkam dan relawan kemanusiaan dipersekusi, maka yang sedang dihancurkan bukan hanya manusia, tetapi juga nurani global,” tegas Rezha Nata Suhandi.
Ia menilai pencegatan terhadap kapal kemanusiaan di perairan internasional menunjukkan semakin terbukanya praktik intimidasi terhadap solidaritas sipil dunia terhadap rakyat Palestina.
“Israel hari ini tidak hanya berhadapan dengan Palestina, tetapi juga sedang mempertontonkan kepada dunia bagaimana kekuatan militer digunakan untuk menghalangi bantuan kemanusiaan dan mengintimidasi suara-suara independen. Ini menjadi preseden berbahaya bagi hukum internasional, karena jalur kemanusiaan seharusnya dilindungi, bukan justru diperlakukan sebagai ancaman keamanan,” ujarnya.
Rezha juga menyampaikan dukungan terhadap langkah Dewan Pers yang telah mengeluarkan Pernyataan Sikap Nomor: 05/P-DP/V/2026 terkait penangkapan jurnalis Indonesia oleh militer Israel. Menurutnya, sikap Dewan Pers menjadi penegasan bahwa keselamatan jurnalis dan kemerdekaan pers merupakan prinsip yang tidak boleh ditawar dalam situasi apa pun.
“Sikap Dewan Pers sangat tepat dan penting untuk menjaga marwah kebebasan pers Indonesia. Dunia harus memahami bahwa jurnalis bukan kombatan perang. Mereka hadir untuk menyampaikan fakta kemanusiaan. Ketika jurnalis ikut ditangkap dalam misi sipil seperti ini, maka ada ancaman nyata terhadap independensi informasi dan hak publik untuk mengetahui kebenaran,” kata Rezha.
Selain itu, ia juga mendukung langkah diplomatik yang dilakukan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di bawah koordinasi Menteri Luar Negeri Sugiono yang menggandeng Yordania dan Turki untuk membuka jalur komunikasi terkait pembebasan para WNI tersebut.
Menurut Rezha, keputusan pemerintah menggunakan jalur diplomasi multilateral merupakan langkah realistis dan strategis mengingat Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik langsung dengan Israel.
“Langkah Kemlu RI menggandeng Yordania dan Turki menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia tetap bergerak aktif meskipun tidak memiliki hubungan resmi dengan Israel. Ini penting, karena dalam situasi seperti ini keselamatan warga negara harus menjadi prioritas utama. Pemerintah juga perlu memastikan tekanan diplomatik terus dilakukan agar pembebasan sembilan WNI tersebut tidak berlarut-larut,” ujarnya.
Rezha menambahkan, keterlibatan lembaga bantuan hukum HAM internasional dalam penanganan kasus tersebut juga menjadi langkah penting untuk memperkuat tekanan hukum dan politik terhadap Israel.
“Ini menyangkut perlindungan warga sipil, kebebasan pers, hak atas bantuan kemanusiaan, serta penghormatan terhadap hukum internasional. Karena itu, tekanan diplomatik dan hukum harus berjalan bersamaan agar dunia tidak terbiasa melihat tindakan semacam ini sebagai sesuatu yang normal,” pungkasnya.
Seluruh jajaran redaksi Radaraktual.com berharap sembilan WNI yang ditahan dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla, termasuk para jurnalis Indonesia, senantiasa diberikan keselamatan, kekuatan, dan dapat segera dibebaskan serta dipulangkan ke Tanah Air.
Radaraktual.com juga berharap upaya diplomatik yang dilakukan pemerintah Indonesia bersama berbagai pihak internasional dapat berjalan efektif demi menjamin perlindungan warga negara dan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan universal.












