Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan setelah menemukan tiga kasus positif hantavirus dan enam pasien suspek yang kini dalam pemantauan ketat, Rabu (20/5/2026). Temuan ini menjadi sinyal dini potensi ancaman penyakit zoonosis di wilayah perkotaan padat.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyatakan langkah cepat telah dilakukan dengan mengirimkan surat kewaspadaan ke seluruh fasilitas kesehatan. Selain itu, sejumlah rumah sakit umum daerah (RSUD) ditunjuk sebagai rumah sakit sentinel guna memperkuat deteksi dini dan respons kasus.
“Seluruh fasilitas kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan penambahan kasus,” kata Ani, Rabu (20/5/2026).
Hantavirus sendiri merupakan virus yang ditularkan melalui paparan kotoran, urine, atau air liur tikus yang mengering dan terhirup manusia. Di lingkungan perkotaan seperti Jakarta, potensi paparan dinilai meningkat seiring kepadatan hunian dan sanitasi yang belum merata.
Praktisi kesehatan masyarakat, Ngabila Salama, mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala awal infeksi. Menurutnya, keterlambatan penanganan dapat berujung pada komplikasi serius.
“Jika mengalami demam tinggi, sakit kepala, dan nyeri otot hebat, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu sampai sesak napas atau gangguan ginjal,” kata Ngabila.
Ia menambahkan, kelompok rentan seperti bayi, balita, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala berat.
Di tengah temuan ini, faktor lingkungan menjadi sorotan utama. Penyebaran hantavirus erat kaitannya dengan kebersihan tempat tinggal dan pengendalian populasi tikus.
Pemprov DKI pun mengimbau warga untuk memperkuat langkah pencegahan sederhana namun krusial, seperti menjaga kebersihan rumah, memastikan sirkulasi udara yang baik, rutin mencuci tangan, serta mengendalikan hama tikus di lingkungan sekitar.
Lonjakan kewaspadaan ini menegaskan bahwa ancaman penyakit menular di kota besar tidak hanya datang dari virus global, tetapi juga dari persoalan domestik yang kerap dianggap sepele: sanitasi dan lingkungan.(Sumber)












