News  

Said Didu Singgung “Geng SOP”, Sebut Prabowo Masuk Titik “To Kill or To Be Killed” Saat Sentuh Oligarki

Aktivis dan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang memperingatkan adanya perlawanan dari kelompok koruptor, penyelundup, dan pihak-pihak yang tidak mencintai tanah air terhadap agenda transformasi bangsa dan ekonomi nasional.

Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (1/6/2026), Said Didu menyebut kelompok yang dimaksud Presiden sebagai “Geng SOP”. Ia juga mengingatkan kembali peringatan yang pernah disampaikannya kepada Prabowo saat bertemu pada 30 Januari 2026.

“Geng SOP yang melakukan hal tersebut. Semoga bapak Presiden @prabowo masih ingat ‘peringatan’ saya saat pertemuan dengan beliau tanggal 30 Jan 2026, bahwa saat Bapak menyentuh oligarki, bintang-bintang pelindung mereka, koruptor, dan politisi busuk maka Bapak masuk pada titik ‘to kill or to be killed’ – sepertinya titik itulah yang terjadi sekarang,” tulis Said Didu.

Pernyataan tersebut merupakan tanggapan atas pemberitaan yang mengutip pidato Prabowo dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Jakarta, Senin (1/6/2026).

Dalam amanatnya, Prabowo menegaskan bahwa upaya melakukan transformasi besar bagi bangsa Indonesia tidak akan berjalan mudah karena akan menghadapi berbagai hambatan dan perlawanan dari kelompok-kelompok tertentu.

“Saudara-saudara, suatu transformasi, suatu perubahan yang besar tidak mudah. Kita akan menghadapi rintangan. Kita akan menghadapi tantangan,” kata Prabowo.

Presiden kemudian menyebut adanya kemungkinan perlawanan dari pihak-pihak yang selama ini diuntungkan oleh praktik-praktik ilegal dan merugikan negara.

“Mungkin juga kita akan menghadapi perlawanan dari kelompok-kelompok yang suka dengan korupsi, suka dengan penyelundupan, suka dengan tindakan-tindakan ekonomi yang ilegal. Kita akan mungkin menghadapi perlawanan dari mereka-mereka yang tidak cinta tanah air, bahkan berusaha terus untuk memperlemah NKRI,” ujar Prabowo.

Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus berani menghadapi tantangan demi masa depan yang lebih baik. Menurutnya, keberanian mengambil keputusan yang benar menjadi kunci dalam mewujudkan perubahan.

“Tapi bangsa yang besar harus berani. Kita harus berani ambil keputusan yang benar walaupun sulit. Kita harus berani membela rakyat kita. Kita tidak boleh mewariskan kemudahan jangka pendek tapi mengorbankan masa depan anak-anak dan cucu-cucu kita,” tegasnya.

Tanggapan Said Didu tersebut menambah dinamika diskusi publik terkait agenda transformasi yang dicanangkan pemerintahan Prabowo, terutama menyangkut isu pemberantasan korupsi, pengaruh oligarki, serta perlawanan dari kelompok yang dinilai selama ini memperoleh keuntungan dari praktik-praktik yang bertentangan dengan kepentingan negara.