Tekno  

Harga Komponen PC Meroket, Teknologi Lawas Kembali Dijual dengan Kemasan Baru

Harga komponen PC yang terus melonjak membuat sejumlah produsen besar kini memilih menjual ulang komponen lawas dengan kemasan baru, ketimbang benar-benar menghadirkan produk mutakhir kepada konsumen.

Pekan lalu, Gigabyte, salah satu produsen komponen PC ternama, memperkenalkan seri motherboard Aorus B550X terbaru yang justru dibangun di atas soket AM4 milik AMD, generasi lawas yang sudah ada sejak beberapa tahun lalu.

Artinya, motherboard baru ini hanya mendukung standar memori DDR4 yang lebih tua, bukan DDR5 yang jauh lebih cepat namun harganya kini kelewat mahal bagi kebanyakan konsumen.

Meski begitu, Aorus B550X tetap dibekali sejumlah fitur terkini, seperti dukungan WiFi 7 dengan kanal 160MHz, serta desain VRM 10-phase 60A DrMOS yang diklaim mampu memasok daya maksimal untuk komponen generasi lama.

Meski disematkan sejumlah fitur baru, motherboard berbasis AM4 tetap tidak akan pernah setara dengan soket generasi terbaru dan memori DDR5. Soket AM5 milik AMD, yang dirancang untuk prosesor generasi terkini seperti Ryzen 7 7700X3D, Ryzen 7 9850X3D, hingga Ryzen 9 9950X3D2 Dual Edition, mendukung standar konektivitas PCIe 5.0 dan memori DDR5 yang lebih cepat. Tidak ada satu pun motherboard AM4 yang bisa mendukung standar-standar tersebut.

Ada dua alasan utama di balik keputusan Gigabyte meluncurkan motherboard berbasis soket lawas ini tahun ini. Pertama, harga RAM DDR4 memang tidak semelonjak DDR5, meski tetap saja masih tergolong mahal bagi kebanyakan konsumen.

Kedua, dalam ajang Computex 2026, AMD kembali merilis ulang prosesor gaming andalan berbasis AM4 miliknya, Ryzen 7 5800X3D, dengan harga 350 dollar AS (sekitar Rp 6,3 juta).

Sejumlah perakit PC sempat kesal karena AMD merilis ulang chip berusia empat tahun dengan harga lebih mahal dibanding chip AM5 yang performanya justru lebih baik saat ini. Namun, sebelum dirilis ulang resmi oleh AMD, harga Ryzen 7 5800X3D di marketplace seperti eBay justru sudah mencapai 400 dollar AS (sekitar Rp 7,2 juta) atau lebih, jauh di atas harga rilis resminya yang baru.

Kehadiran chip baru ini setidaknya diharapkan bisa menekan turun harga yang terlanjur melambung di pasar sekunder tersebut. Bukan cuma RAM, hampir semua komponen PC terbaru saat ini tengah mengalami kenaikan harga. Nvidia dilaporkan kembali menaikkan harga kartu grafis seri RTX 50, dimulai dari Korea Selatan.

AMD pun disebut berpotensi turut menaikkan harga kartu grafis Radeon seri RX 9000 miliknya dalam waktu dekat, menambah panjang daftar komponen PC yang kompak naik harga tahun ini. Baca juga: Krisis Memori Masih Berlanjut, Harga RAM

Motherboard AM5 juga naik harga

Yang lebih mengkhawatirkan bagi konsumen yang berencana upgrade ke generasi terbaru, motherboard berbasis soket AM5 pun disebut-sebut akan mengalami kenaikan harga signifikan dalam waktu dekat.

Media Videocardz melaporkan, mengutip rumor dari forum diskusi asal China, Board Channels, bahwa produsen seperti Gigabyte, MSI, dan Asus berencana menaikkan harga motherboard mereka pada kuartal ketiga 2026 (Q3 2026).

Penyebabnya adalah kenaikan harga PCB (printed circuit board) serta bahan baku pembuatannya yang terus melonjak sepanjang tahun ini.

Di saat bersamaan, permintaan terhadap motherboard baru justru melemah akibat mahalnya harga komponen PC rakitan secara keseluruhan, sehingga banyak konsumen menunda rencana upgrade PC mereka. Alhasil, margin keuntungan penjualan motherboard kini dinilai sudah tidak lagi masuk akal bagi para produsen seperti sebelumnya.

Meski begitu, bukan berarti konsumen sama sekali tidak bisa merakit PC kencang dengan komponen semacam ini, asalkan paham betul batasannya.

Ada batas kinerja yang bisa dicapai dari komponen lawas, betapapun “baru” kemasan penjualannya, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Gizmodo.

(Sumber)