News  

Gendis Winahyu: Dari Lapangan Sekolah Hingga Podium Emas Taekwondo Piala Mendagri 2025

Sejak Sabtu pagi di Gelanggang Olahraga Ciracas, Jakarta Timur, riuh tepuk tangan penonton tak henti bergema. Sorak-sorai dukungan bercampur dengan semangat para atlet muda yang tengah berjuang di arena. Di antara wajah-wajah penuh keringat itu, satu nama mencuri perhatian: Gendis Winahyu, siswi kelas 8 dari sebuah SMP di kawasan Depok.

Dengan sabuk yang melilit rapi di pinggang, tatapannya tajam, dan tubuh kecil namun penuh energi, Gendis tampil percaya diri. Setiap tendangan, setiap gerakan, menunjukkan bahwa ia bukan sekadar ikut serta, melainkan hadir untuk memberi bukti. Dan bukti itu nyata: sebuah medali emas berhasil ia bawa pulang di ajang bergengsi Kejuaraan Taekwondo Pusprenas Piala Mendagri 2025.

Gendis bukanlah anak yang asing dengan disiplin. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan dunia organisasi. Saat teman-teman sebayanya masih sibuk bermain, Gendis memilih menjadi bagian dari Paskibra di sekolah dasar. Ia juga aktif di Pramuka, menekuni latihan baris-berbaris, tali-temali, hingga kegiatan kemah di alam terbuka.

Karakter disiplin dan daya juang itu kini menjadi modal penting dalam perjalanan taekwondo-nya.
“Dari Paskibra dan Pramuka saya belajar tentang kebersamaan dan tanggung jawab. Dari taekwondo saya belajar bagaimana mengendalikan diri,” ujar Gendis dengan senyum polos, seakan emas di dadanya hanyalah bonus dari proses panjang yang ia jalani.

Digembleng di Dojang

Gendis adalah salah satu atlet binaan Dojang GDR TDR 12 Depok, sebuah pusat latihan yang terkenal melahirkan talenta-taekwondo di wilayah Jabodetabek. Di sinilah ia digembleng, berlatih teknik, strategi, dan mental bertanding.

“Kalau sudah latihan, Gendis tidak pernah main-main. Dia tipe anak yang fokus dan cepat menyerap arahan,” ujar salah satu pelatihnya.

Latihan rutin, pengorbanan waktu bermain, hingga rasa lelah yang kerap membuat tubuhnya ingin menyerah, semua ia lewati dengan tekad kuat. Hasilnya terasa di Ciracas: Gendis bukan hanya membawa pulang emas, tetapi juga ikut memperkuat prestasi Dojang GDR TDR 12 yang pada hari itu sukses mencuri perhatian dengan hasil sementara 6 medali emas dan 3 perak. Perolehan ini menempatkan GDR TDR 12 sebagai salah satu kontingen paling dominan di ajang Piala Mendagri 2025.

Antara Haru, Lelah, dan Kebanggaan

Kejuaraan hari itu penuh cerita. Ratusan atlet muda dari berbagai daerah datang membawa ambisi besar. Di sela-sela ketegangan arena, ada pula cerita lain: para orang tua yang setia menunggu anak-anak mereka. Di lantai Plaza GOR Ciracas, banyak yang tertidur beralaskan matras, menahan lelah demi mendampingi perjuangan putra-putrinya.

Di tengah hiruk pikuk itu, Gendis mengingat setiap momen pertandingannya. Keringat yang membasahi pelipis, suara pelatih yang menggema dari pinggir arena, hingga sorot mata lawan yang memaksanya tetap waspada. Semua berpadu menjadi pengalaman berharga yang akan ia kenang seumur hidup.

Ketika namanya diumumkan sebagai peraih emas, Gendis hanya bisa menundukkan kepala. Bukan karena lelah, tetapi karena haru.
“Saya tidak menyangka bisa sampai di sini. Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung,” ucapnya singkat, namun penuh makna.

Bagi Gendis, medali emas ini bukan garis akhir. Ia justru melihatnya sebagai langkah awal. Cita-citanya sederhana namun penuh mimpi besar: ia ingin mewakili Indonesia di ajang internasional, bahkan hingga Olimpiade.

Kisah Gendis menjadi bukti bahwa bakat, jika dipadukan dengan disiplin, kerja keras, dan dukungan lingkungan, bisa menumbuhkan prestasi. Ia tidak hanya membanggakan orang tua dan sekolahnya, tetapi juga memberi inspirasi bagi teman-teman sebaya bahwa mimpi bisa digapai dengan usaha sungguh-sungguh.

Hari itu di Ciracas, bukan hanya emas yang diraih Gendis. Ia membawa pulang kebanggaan, pengalaman, dan keyakinan bahwa masa depan terbuka luas. Di pundaknya, harapan banyak orang bertumpu—bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai generasi muda yang mampu menyeimbangkan prestasi akademik, organisasi, dan olahraga.