Koperasi Desa atau Kopdes Merah Putih di Hambalang, Bogor, yang baru sebulan diresmikan, kini terpantau sepi. Sejumlah unit layanan yang diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa tidak berjalan maksimal.
Kios sembako yang seharusnya menjadi andalan hanya menjual sedikit produk, sementara unit penjualan gas melon tabung 3 kilogram terpaksa ditutup karena stok kosong. Tak hanya itu, klinik dan apotek juga tidak pernah beroperasi sejak peresmian.
Gunakan Dana Pribadi
Ketua Kopdes Hambalang, Cecep Mukhtaruddin, mengakui bahwa koperasi tidak dapat beroperasi secara optimal akibat ketiadaan modal dari pemerintah maupun bank penyalur.
“Ya beginilah kondisi Kopdes saat ini, dari saat launching sampai sekarang. Jadi hanya mengandalkan uang simpanan anggota yang pun belum mumpuni,” ujar Cecep saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (22/8/2025).
Akibat minimnya modal, pengelola terpaksa mengandalkan dana pribadi untuk memulai usaha. Namun, dana tersebut sudah habis digunakan dan barang konsinyasi yang sempat dipajang saat peresmian tidak bisa diperbarui karena pemasok meminta pembayaran tunai.
Kondisi ini menyebabkan sejumlah unit usaha yang dijanjikan saat peresmian berhenti total. Klinik, apotek, hingga penjualan gas melon tidak lagi beroperasi.
Hanya Toko Sembako dan Pupuk yang Buka
Dari delapan layanan yang direncanakan, hanya toko sembako dan penjualan pupuk yang masih berjalan meskipun dalam kondisi terbatas.
“Gasnya habis dan kita belum bisa isi lagi karena modal enggak ada. Mentok di modal. Kalau kita punya modal, udah penuh semua barang-barangnya,” ungkap Cecep.
Kondisi serupa juga terjadi di klinik dan apotek yang sepi tanpa tenaga medis maupun pasien. Lebih lanjut, Cecep menjelaskan, koperasi sempat mengandalkan sistem konsinyasi saat peresmian.
Namun, barang yang dipajang telah dibayar lunas sehingga menjadi milik koperasi. Saat ini, pemasok tidak lagi memberikan skema konsinyasi, sehingga Kopdes harus membeli barang secara tunai.
Dari delapan unit usaha yang disiapkan, hanya beberapa yang masih beroperasi terbatas, seperti kios sembako, pupuk, dan layanan keanggotaan koperasi. Selebihnya, klinik, apotek, dan penjualan gas berhenti total.
“Sejak dari launching, ya begini. Untuk pupuk alhamdulillah masih jalan karena kebutuhan utama petani di sini singkong. Tapi kalau barang kebutuhan pokok bisa dicari di pasar,” ujar Cecep.
“Untuk sementara yang penting siklus pemasaran dan koperasinya jalan,” tambahnya.
Berharap Dukungan Modal
Cecep juga mengungkapkan bahwa pengurus Kopdes hingga kini tidak menerima gaji karena koperasi belum menghasilkan keuntungan. Mereka berharap ada dukungan modal dari pemerintah maupun bank penyalur agar Kopdes bisa beroperasi sesuai rencana.
“Ya modal itu saja. Modal, modal, dan modal. Ibaratnya kita disuruh mancing, tapi cuma dikasih kail,” tuturnya.
Koperasi Desa Merah Putih sendiri digagas pemerintah sebagai wadah ekonomi desa dengan berbagai unit layanan, termasuk sembako murah, simpan pinjam, klinik, apotek, dan logistik pertanian.
Namun, di Hambalang, koperasi justru kesulitan menghidupkan unit usaha karena terkendala permodalan.
Kopdes Merah Putih Hambalang diluncurkan pemerintah pada Juli 2025 dengan tujuan memperkuat ekonomi desa melalui berbagai unit layanan. Namun, saat ini, koperasi tersebut belum menunjukkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. {sbr}












