Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah, kembali menyoroti polemik dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menurutnya semakin menunjukkan kejanggalan baru. Dalam tulisannya berjudul “Ijazah Palsu yang Semakin Palsu” yang dirilis di Bandung, 17 Oktober 2025, Rizal menyebut ada indikasi konspirasi sistematis antara sejumlah lembaga negara untuk menutup-nutupi kebenaran.
Rizal mengungkapkan, ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) memberikan salinan ijazah Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada Bonatua Silalahi, Roy Suryo, dan sejumlah pihak lain dalam rangka pendaftaran Capres 2019, publik semakin dekat untuk membuktikan dugaan kepalsuan ijazah Jokowi. Tak lama kemudian, kelompok lain seperti Leony dan Akhyar dari Bandung juga memperoleh salinan serupa dari KPU untuk pendaftaran Capres 2014.
Menurutnya, seluruh salinan ijazah—baik yang digunakan untuk Pilpres 2019, 2014, maupun Pilgub DKI 2012—memiliki format dan isi yang identik, termasuk foto Jokowi berkumis dan berkacamata serta cap legalisasi di bawah foto. Namun, warna cap berbeda: biru pada 2019, merah pada 2014 dan 2012.
“Yang lebih aneh lagi, pengesahan ijazah tahun 2019 atas nama Dr. Ir. Budiadi, sedangkan untuk 2014 dan 2012 tertulis nama Prof. Dr. Ir. Mochammad Na’iem. Tapi saat Jokowi maju sebagai Wali Kota Solo 2005–2010, ijazahnya justru mencantumkan Dekan yang belum menjabat di tahun tersebut,” ujar Rizal, Jumat (17/10/2025).
Ia menilai KPU dan KPUD, baik tingkat DKI Jakarta maupun Surakarta, terlibat dalam penyesatan informasi publik. Menurut Rizal, penutupan tanda tangan dan tanggal legalisasi pada salinan ijazah melanggar UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dan juga bisa dikategorikan obstruction of justice sesuai Pasal 221 KUHP.
“Berbelitnya proses pembuktian dugaan ijazah palsu Jokowi adalah bukti nyata adanya konspirasi sistematis yang melibatkan banyak pihak—UGM, KPU, KPUD, kepolisian, hingga pengadilan. Bahkan Presiden sendiri terkesan melindungi kejahatan hukum tersebut,” katanya.
Rizal menegaskan, sekeras apa pun upaya untuk menutupi kasus ini, kebenaran akan terus terkuak. Ia menyindir bahwa ijazah tersebut bukan hanya palsu, tetapi “semakin palsu”.
“Bahlil menyebut Jokowi sebagai Raja Jawa, tapi kini justru menjadi Raja Jawa Palsu,” ujarnya menutup tulisan.
Rizal menambahkan kritik tajamnya dengan kalimat penutup:
“Jokowi sang Perusak — Jokowi the Corruptor, Jokowi the Vandal, Jokowi the Destroyer.”












