Pemerhati politik dan kebangsaan, M. Rizal Fadillah, menyoroti tajam proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (KCIC) atau yang dikenal dengan nama Whoosh, yang kini kembali menuai kontroversi akibat persoalan keuangan dan beban utang besar terhadap China.
Dalam tulisannya berjudul “Whoosh..owhoosh..owhoosh..Bablas Jokowine”, Rizal menyebut bahwa proyek tersebut kini menimbulkan kepanikan di kalangan pejabat yang terlibat. Ia menuding bahwa kebijakan keuangan terkait proyek tersebut kini menjadi beban berat negara dan dapat berujung pada kendali penuh China terhadap proyek strategis itu.
“Hutang Whoosh ke China fantastis mencapai 116 triliun rupiah, dan kini Danantara diminta menanggungnya setelah wacana penggunaan APBN ditolak,” tulis Rizal, Sabtu (18/10/2025).
Ia menyoroti pernyataan berbeda antara sejumlah pejabat, termasuk Menteri Luhut Binsar Pandjaitan dan Rosan Roeslani, CEO Danantara.
Menurutnya, proyek ini awalnya dijanjikan sebagai skema Business to Business (B to B), namun dalam perjalanannya bergeser ke Business to Government (B to G). “Kini harus kembali menjadi B to B sebagaimana konsep awal. Tapi B atau G banci juga, soalnya saat ini BPI Danantara yang harus menangani,” sindir Rizal.
Rizal juga mengutip pandangan sejumlah ekonom, di antaranya Agus Pambagio dan Anthoni Budiawan, yang menilai proyek KCIC sarat dengan dugaan mark-up dan pemborosan. “Proyek ini adalah ide Jokowi, dan indikasi mark-up berlipat membuka ruang korupsi yang besar,” tulisnya.
Lebih lanjut, Rizal meminta lembaga negara seperti BPK, PPATK, dan KPK untuk turun tangan mengusut aliran dana serta potensi penyimpangan keuangan dalam proyek tersebut. Ia juga menyebut proyek kereta cepat hanyalah satu dari sekian banyak dugaan penyimpangan selama masa pemerintahan Jokowi.
“Terlalu banyak pintu korupsi Jokowi — mulai dari proyek PSN, dana haji, BTS Kominfo, hingga bansos,” tulisnya. Ia menilai bahwa berbagai proyek besar pemerintahan sebelumnya kini berujung menjadi beban finansial negara.
Rizal bahkan menuding keras mantan Presiden Jokowi sebagai sosok yang “korup, tukang bohong, dan jago pencitraan”. Ia menilai, kasus KCIC Whoosh menjadi simbol kegagalan kebijakan infrastruktur yang dipaksakan tanpa perhitungan matang.
“Whoosh kini jadi beban keuangan negara dan berpotensi menyeret Jokowi dan gengnya ke tempat sampah sejarah,” pungkas Rizal.












