Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa sedang naik daun. Menjadi buah bibir masyarakat. Video-videonya viral. Rakyat sambut dengan penuh kekaguman. Jangan coba-coba mengkritisi Purbaya bila tidak mau dibully. Padahal gebrakan Purbaya belum menunjukkan perubahan signifikan. Maklum baru 2 bulan menjabat.
Jangan over ekspektasi. Biasa saja. Politik penuh ketidakpastian. Sulit ditebak. Wilayah abu-abu. Tidak tercapai nanti kecewa. Biasa-biasa saja karena Purbaya belum terbukti. Simpan dulu euforia Purbaya. Bila terbukti baru kasih empat jempol.
Kehadiran Menteri Purbaya bagai penghapus dahaga ditengah konkalikong pejabat negara, mafia dan bandit-bandit ekonomi yang menyengserakan rakyat. Manis dimasa kampanye. Pahit dikemudian hari.
Biasanya yang menyuarakan suara rakyat kalangan oposisi atau kelompok kritis lainnya. Jarang sekali suara rakyat disuarakan oleh orang dari lingkaran kekuasaan. Purbaya hadir di momentum yang tepat. Purbaya dianggap bak “juru selamat” sakitnya ekonomi negeri ini.
Apa yang disuarakan oleh Menteri Purbaya persis yang disuarakan rakyat selama ini. Kita ambil satu saja contoh. Soal utang kereta cepat Whoosh ratusan triliun rupiah. Proyek triliunan yang tidak dirasakan secara langsung manfaatnya oleh rakyat tapi rakyat harus ikut menanggung beban melalui APBN.
Purbaya dengan lantang menolak membayar angsuran pokok dan bunga utang kereta cepat Whoosh dari APBN. Bunganya saja per tahun 2 triliun rupiah. Sementara operasional kereta cepat Whoosh tidak cukup untuk bayar bunga pinjaman. Keputusan Purbaya ini terang saja disambut suka cita oleh rakyat.
Keputusan Purbaya tersebut lain halnya bagi Jokowi dan Luhut Binsar Pandjaitan (LBP). Malapetaka. Bisa-bisa kebobrokan mark up yang diduga kuat melibatkan Jokowi dan LBP terbongkar. Dalam 10 tahun terakhir, Jokowi dan LBP tidak tersentuh hukum. Ujian keseriusan Presiden Prabowo memburu koruptor sampai Antartika.
Purbaya juga bikin ketar-ketir anak buahnya di Kementerian Keuangan. Purbaya sesumbar akan terjadi penangkapan besar-besaran pelaku penyelundupan atau mafia barang-barang ilegal, mulai dari komoditas rokok, tekstil, hingga baja.
Bukan tanpa risiko bila Purbaya benar-benar berani membongkar proyek kereta cepat Whoosh dan membongkar mafia di Kementerian Keuangan. Tidak menutup kemungkinan Purbaya digembosi bahkan dibunuh seperti Jaksa Agung ke-17, Baharuddin Lopa.
Kematian Baharuddin Lopa saat melaksanakan umrah itu masih menyisakan misteri hingga hari ini lantaran dikait-kaitkan dengan upaya Jaksa Agung tersingkat di Indonesia itu sedang memburu koruptor kelas kakap, termasuk elit politik yang diduga KKN ketika itu.
Saat ini pun kita mendengar banyak yang tidak suka dengan gebrakan Purbaya yang direstui Presiden Prabowo. Ada potensi baik Purbaya maupun Presiden Prabowo bakal dihabisi sebagai konsekuensi memburu koruptor kelas kakap.
Rakyat berharap gebrakan Purbaya dan Presiden Prabowo bukan sekadar kosmetika politik ditengah anjloknya citra Presiden Prabowo yang gagal membentuk Komite Reformasi Polri.
Bahkan masih banyak janji-janji Presiden Prabowo belum terealisasi seperti pertumbuhan ekonomi 8 persen, 19juta lapangan kerja, 3juta rumah, 200 fakultas kedokteran dan janji-janji lainnya.
Jangan sampai kekaguman publik menjadi antipati. Sekadar kosmetika politik untuk menyenangkan rakyat setelah 10 tahun terakhir ditipu habis-habisan oleh rezim Jokowi. Menteri Purbaya dan Presiden Prabowo harus menepati ucapannya.
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [QS. ash-Shaff: 3]
Bandung, 13 Jumadil Awwal 1447/4 November 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis












