News  

HUT ke-80 Kemenag Kota Bogor, LANSKIP: Kerukunan Umat Beragama Jadi Kado Istimewa

Abdul Rachmat Saleh (Dok Pribadi)

Di tengah hiruk pikuk persoalan kebangsaan yang kerap menguji kohesi sosial, Kota Bogor justru menampilkan wajah Indonesia yang teduh. Pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kementerian Agama, kerukunan umat beragama yang terjalin harmonis di Kota Bogor menjadi kado istimewa sekaligus capaian monumental.

Hal itu disampaikan Direktur Lembaga Analisis dan Kajian Publik LANSKIP, Abdul Rachmat Saleh, yang menilai keberhasilan Kementerian Agama Kota Bogor merajut kebersamaan lintas iman sebagai sebuah prestasi luar biasa.

“Kerukunan umat beragama yang terbangun di Kota Bogor bukanlah sesuatu yang lahir secara instan. Ini adalah buah dari kerja panjang, kesabaran, dialog, dan kepemimpinan yang mengedepankan nilai kebangsaan,” ujar Abdul Rachmat Saleh, Jumat (2/1/2026).

Menurut Abdul Rachmat, realitas kehidupan sosial di Kota Bogor menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar jargon. Kehidupan antarumat beragama berlangsung harmonis, saling menghormati, dan saling menjaga ruang-ruang ibadah maupun perayaan keagamaan masing-masing.

Ia menegaskan, harmoni tersebut menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak harus berujung pada konflik, melainkan dapat menjadi kekuatan sosial yang menyatukan.

“Setiap perayaan hari besar keagamaan, rasa damai itu begitu nyata. Ada saling pengertian, saling membantu, dan saling menjaga. Inilah wajah Indonesia yang sejati,” katanya.

Abdul Rachmat juga memberikan apresiasi khusus kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bogor, Drs. Dede Supriatna, yang dinilainya berhasil membangun fondasi komunikasi dan kolaborasi lintas umat beragama.

Di bawah kepemimpinan Dede Supriatna, Kemenag Kota Bogor dinilai konsisten menghadirkan pendekatan dialogis, persuasif, dan inklusif dalam menjaga keseimbangan kehidupan beragama.

“Modal utama dalam merajut kebersamaan adalah kemampuan mengomunikasikan perbedaan. Dan itu tidak mudah. Dibutuhkan keteladanan, kehadiran negara, serta kepekaan terhadap dinamika masyarakat,” tegas Abdul Rachmat.

Ia mengakui, menjaga kerukunan di era saat ini bukan perkara ringan. Arus informasi yang deras, polarisasi sosial, hingga politisasi identitas kerap menjadi tantangan serius. Namun Kota Bogor dinilai mampu melewati ujian tersebut dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan.

Kerukunan umat beragama di Kota Bogor, lanjutnya, dibangun dalam bingkai Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan menempatkan persatuan sebagai nilai utama.

“Kekuatan kita adalah saling menghormati, saling menjaga, dan tidak meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal yang sudah lama hidup di masyarakat,” ujarnya.

Abdul Rachmat menekankan bahwa kearifan lokal menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan sosial. Nilai gotong royong, musyawarah, dan rasa kebersamaan masih hidup dan terus dirawat oleh masyarakat Kota Bogor.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi penyangga utama ketika potensi gesekan sosial muncul, sekaligus menjadi energi positif untuk memperkuat persaudaraan lintas iman.

Menutup pernyataannya, Abdul Rachmat menyebut peringatan HUT ke-80 Kementerian Agama sebagai momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen bersama.

“Kerukunan yang terbangun di Kota Bogor adalah spirit bersama dalam kebinekaan. Ini bukan hanya kebanggaan daerah, tetapi juga contoh nasional bagaimana keberagaman dirawat dengan hati dan kebijaksanaan,” pungkasnya.

Dengan capaian tersebut, Kementerian Agama Kota Bogor dinilai tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga hadir sebagai penjaga harmoni sosial, perekat kebangsaan, dan pelopor kehidupan beragama yang damai di tengah keberagaman Indonesia.