Jujur saja, memang ada rasa kesal ketika melihat “oposisi” mengetuk pintu penguasa. Begitulah yg saya rasakan ketika melihat Eggi Sudjana atau Damai Hari Lubis melangkah ke Solo, mengharap belas kasih berupa SP3 dari sosok yg selama ini mereka gugat keabsahannya.
Rasanya seperti melihat benteng pertahanan yg runtuh, menyedihkan. Bagi sebagian orang, itu adalah sebuah antiklimaks yg memalukan.
Namun, simpan dulu rasa muak itu. Tengoklah ke arah tribun. Lihatlah kerumunan yg jauh lebih mengerikan daripada kompromi politik manapun, yaitu kerumunan Masyarakat Pengecut di Tribun Penonton.
Masyarakat kita telah berubah menjadi penonton Gladiator Romawi yg duduk nyaman di sofa empuk, sambil memegang gawai sebagai pengganti acungan jempol Kaisar.
Masyarakat kita jauh lebih menjijikkan daripada mereka yg memilih berdamai demi keselamatan diri.
Lihatlah dengan mata hati yg jujur, masyarakat kita adalah penonton yg haus darah diatas tribun, tapi begitu penakutnya akan terluka ketika berada diluar Koloseum.
Dalam perkara sengketa ijazah ini, rakyat memosisikan para terlapor (Eggi Sudjana, Damai Hari Lubis, Roy Suryo, Dr.Rismon Sianipar, dokter Tifa, dkk) hanya sebagai ?????? ????????? mereka.
Masyarakat bersorak lantang, “Maju!!.., Hancurkan!!.., Bongkar kebohongan Jokowi!!…” sambil memberi tepuk tangan paling gemuruh jika para petarung ini babak belur, diseret ke meja hijau, atau dijebloskan ke penjara.
Bagi masyarakat, penjara bagi Eggi atau Hari Lubis adalah tontonan heroik. Masyarakat akan segera menabur bunga kata-kata di media sosial untuk Eggi dan Hari Lubis Sang Gladiator sebagai “Pahlawan kebenaran!!..”, “Singa podium!!..”, “Martir demokrasi!!…”.
Masyarakat memuja penderitaan mereka karena penderitaan itu memuaskan dahaga mereka akan perlawanan, tanpa perlu menanggung risikonya barang sedikit pun.
Masyarakat ingin mereka hancur lebur demi memvalidasi keyakinan mereka bahwa “ijazah itu palsu”, sementara mereka tetap aman menyeruput kopi di pagi hari tanpa takut diciduk aparat.
Tapi, begitu para gladiator ini memilih untuk meletakkan pedang, memilih jalan damai, atau sekadar ingin tidur nyenyak tanpa status tersangka, sorakan itu sontak berubah menjadi caci maki.
“Pengkhianat!!…”, “Pengecut!!…”, “Sudah dibeli!!…”, “Masuk angin!!…”
Lihatlah, betapa kejamnya masyarakat kita.
Mereka marah bukan karena keadilan mati, tapi karena pertunjukan dihentikan sebelum ada darah yg tumpah. Mereka murka karena aktor yg digadang-gadang untuk mewakili kemarahan mereka tiba-tiba memilih untuk menjadi manusia biasa yg ingin selamat.
Masyarakat menuntut para tersangka menjadi “pahlawan” dengan standar yg tidak masuk akal, yakni para pejuang melawan kebohongan Jokowi harus menderita, harus dipenjara, harus hancur hidupnya, baru mereka akui “Kepahlawanannya”.
Jika mereka memilih jalan selamat (SP3), maka para pejuang akan di anggap sampah.
Pertanyaannya sederhana untuk para penonton hipokrit yg budiman, “Jika anda semua begitu yakin akan kebenaran kasus ijazah itu, dan jika anda begitu benci melihat perdamaian itu, mengapa bukan anda yang berdiri di sana…? Mengapa anda butuh “tumbal” untuk menyuarakan apa yang anda yakini…?”
Kemarahan kita sebagai bagian dari masyarakat yg menjadi penonton atas perdamaian mereka adalah bukti kepengecutan kolektif.
Kita ingin perang, tapi kita mewakilkan perang kita kepada orang lain. Dan ketika wakil itu lelah berperang, kita meludahinya, lalu kembali duduk manis menunggu relawan gladiator berikutnya yg bersedia mati demi tepuk tangan kita yg fana ini.
“Betapa hipokrit dan pengecutnya…!!”












