Pasar keuangan domestik sedang tidak baik-baik saja. Memasuki pekan akhir Januari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi signifikan, berbarengan dengan nilai tukar Rupiah yang kian loyo terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merespons fenomena itu, Direktur Riset GREAT Institute yang juga Guru Besar Ekonomi Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, menyebut kondisi ini sebagai manifestasi dari tekanan global yang intens. Menurutnya, terjadi pergeseran besar-besaran preferensi investor global yang kini lebih memilih aset berdenominasi dolar AS.
“IHSG tertekan tajam mencerminkan realokasi portofolio investor ke instrumen berisiko rendah. Di saat yang sama, Rupiah mendekati posisi terlemahnya dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Prof. Perdana dalam analisisnya dikutip Minggu (1/2/2026).
Eksodus Modal dan Efek Suku Bunga AS
Pemicu utama ambruknya pasar domestik adalah aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing, terutama di pasar obligasi. Fenomena capital outflow dari negara berkembang (emerging markets) menuju aset safe-haven telah memperkuat posisi dolar AS secara global.
Prof. Perdana menyoroti ketidakpastian kebijakan moneter di AS sebagai biang kerok utama. Ketika ekspektasi suku bunga AS tetap tinggi, imbal hasil (yield) obligasi AS menjadi jauh lebih seksi dibandingkan pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Akibatnya, modal global ‘pulang kampung’ ke Washington, menekan IHSG dan memperlemah otot Rupiah.
Simalakama Kebijakan Bank Indonesia
Bank Indonesia (BI) sejauh ini berupaya menahan gempuran dengan mempertahankan suku bunga acuan 7-day reverse repurchase rate di level 4,75 persen. Namun, langkah ini dinilai Prof. Perdana sebagai sinyal bahwa ruang untuk pengetatan lebih lanjut mulai terbatas.
“BI berada di posisi sulit antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Komunikasi kebijakan yang jelas sangat krusial untuk menurunkan volatilitas pasar saat ini,” tegasnya.
Peringatan Lembaga Global dan Investabilitas RI
Tekanan tak hanya datang dari indikator makro, tapi juga dari persepsi pasar. Laporan Financial Times sempat menyinggung soal investabilitas pasar saham Indonesia. Ada kekhawatiran dari lembaga global mengenai isu struktural yang jika tidak segera dibenahi, bakal menggerus minat investor asing secara permanen.
Prof. Perdana menekankan pentingnya langkah koordinatif antara otoritas pasar modal dan regulator. Perbaikan transparansi, tata kelola korporasi (corporate governance), serta infrastruktur perdagangan menjadi syarat mutlak untuk memperkuat kepercayaan modal asing.
“Koreksi IHSG dan penguatan dolar ini adalah siklus pasar yang membutuhkan respons analitis dan adaptif. Pelaku pasar dan trader harus disiplin dalam manajemen risiko dan mulai melakukan diversifikasi portofolio agar tidak tergilas volatilitas,” pungkasnya. (Sumber)












