Di sebuah ruang presentasi yang hening, layar power point menampilkan peta ancaman negara, kekuatan militer, serta jejaring intelijen yang bekerja dalam sunyi. Penjelasan mengalir sistematis—tajam, terukur, dan tanpa dramatisasi. Sosok yang berdiri di depan layar itu adalah Dr Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati M.Si perempuan yang akrab disapa Mbak Nuning atau Bu Nuning, salah satu figur langka perempuan Indonesia di dunia intelijen strategis.
Dunia intelijen identik dengan kerahasiaan, ketegasan analisis, dan dominasi figur laki-laki. Namun Nuning hadir mematahkan stereotip itu. Ia tidak hanya memahami teori keamanan, tetapi juga terlibat langsung dalam dinamika kebijakan pertahanan, diplomasi, hingga komunikasi strategis negara.
Pengalamannya sebagai anggota DPR RI Komisi I—yang membidangi pertahanan, luar negeri, intelijen, dan komunikasi—membentuk perspektifnya tentang bagaimana negara membaca ancaman, merumuskan respons, serta menjaga kedaulatan di tengah perubahan geopolitik global. Dari ruang sidang parlemen hingga ruang kelas akademik, ia memadukan praktik politik dengan kedalaman analisis keamanan.
Perjalanan intelektual Nuning berakar kuat pada pendidikan. Ia menempuh S1 dan S2 di Universitas Indonesia, lalu melanjutkan S3 di Universitas Padjadjaran. Latar akademik ini membentuk kerangka berpikirnya yang analitis—mampu membaca fenomena keamanan tidak sekadar dari sisi militer, tetapi juga komunikasi, psikologi, dan dinamika sosial politik.
Bagi Nuning, intelijen bukan hanya soal operasi rahasia, melainkan kemampuan memahami informasi, mengolahnya menjadi pengetahuan strategis, lalu menyampaikannya secara tepat kepada pengambil keputusan. Perspektif inilah yang kemudian menjadi inti karya ilmiahnya.
Kini hari-harinya banyak dihabiskan di ruang kuliah. Ia menjadi dosen intelijen di Universitas Pertahanan serta di Sekolah Tinggi Intelijen Negara.
Di hadapan para taruna dan mahasiswa intelijen, Nuning tidak hanya mengajarkan teori. Ia menanamkan cara berpikir: membaca tanda-tanda kecil, memahami konteks global, serta menjaga etika profesi. Baginya, kekuatan intelijen sejati bukan pada kerahasiaan semata, tetapi pada ketepatan analisis dan tanggung jawab terhadap negara.
Peran akademik ini menjadikannya jembatan antara dunia praktis keamanan nasional dan pengembangan ilmu pengetahuan—sesuatu yang masih jarang dimiliki oleh praktisi intelijen Indonesia.
Pengalamannya sebagai staf khusus Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada era Budi Gunawan memperkaya sudut pandangnya tentang bagaimana keputusan strategis negara dibentuk. Di titik ini, ia menyaksikan langsung bagaimana informasi intelijen diproses menjadi kebijakan yang berdampak luas bagi stabilitas nasional.
Namun alih-alih larut dalam pusaran kekuasaan, Bu Nuning memilih kembali ke dunia akademik—ruang refleksi yang memungkinkan pemikiran jangka panjang tentang keamanan Indonesia.
Puncak pemikiran Nuning tertuang dalam disertasinya yang telah dibukukan, Komunikasi Dalam Kinerja Intelijen Keamanan.
Gagasan utamanya sederhana namun mendalam: intelijen yang kuat bukan hanya soal mengumpulkan informasi, tetapi bagaimana informasi itu dikomunikasikan secara efektif, akurat, dan tepat waktu. Kesalahan komunikasi dapat berujung pada salah kebijakan—bahkan ancaman bagi negara.
Di tengah era disinformasi digital dan perang informasi global, pemikiran ini terasa semakin relevan. Intelijen modern tidak lagi bekerja sendirian di ruang gelap; ia harus mampu berinteraksi dengan publik, teknologi, dan dinamika geopolitik yang bergerak cepat.
Kehadiran Nuning di dunia intelijen membawa makna simbolik. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan strategis tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kapasitas intelektual, integritas, dan dedikasi pada negara.
Di ruang presentasi tempat ia memaparkan ancaman nasional, tidak ada retorika berlebihan. Hanya data, analisis, dan visi tentang Indonesia yang aman serta berdaulat.
Dan di balik sunyi itu, berdiri seorang perempuan yang memilih mengabdi melalui pengetahuan—membaca ancaman sebelum ia menjadi nyata, serta menyiapkan generasi baru penjaga republik.












