News  

Damai Hari Lubis: Suara Lantang dari Sumatra Utara di Panggung Hukum Nasional

Damai Hari Lubis (IST)

Nada bicaranya kencang, beraksen khas Sumatra Utara. Setiap kalimat yang keluar terasa tegas, seolah disusun dengan disiplin logika hukum yang ketat. Di ruang sidang maupun layar televisi, ia dikenal sebagai sosok yang tak ragu beradu argumen dengan merujuk pasal demi pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Dialah Damai Hari Lubis, advokat yang namanya berkali-kali muncul dalam pusaran perkara besar di Indonesia.

Bagi publik yang mengikuti dinamika hukum dan politik nasional, wajahnya bukan sosok asing. Ia sering hadir sebagai pembela tokoh kontroversial, tampil dengan retorika tajam dan gaya komunikasi yang konfrontatif. Salah satu peran yang paling menyita perhatian adalah ketika ia berada di barisan kuasa hukum Habib Rizieq Shihab. Dalam berbagai kesempatan, Damai tampil di media massa, menjelaskan strategi pembelaan sekaligus melontarkan kritik terhadap proses penegakan hukum yang ia nilai tidak selalu adil.

Ciri paling menonjol dari Damai Hari Lubis adalah keberaniannya bersuara keras di ruang publik. Ia bukan tipe pengacara yang memilih kalimat aman. Sebaliknya, ia kerap menggunakan diksi tajam, bahkan provokatif, untuk menegaskan posisi hukum kliennya.

Gaya ini membuatnya berada di dua kutub penilaian. Di satu sisi, ia dipandang sebagai advokat militan yang konsisten membela prinsip. Di sisi lain, ia tak jarang dianggap terlalu keras, bahkan politis. Namun justru di situlah identitas Damai terbentuk—seorang pengacara yang tak takut berada di pusat kontroversi.

Pengalaman menangani berbagai perkara besar turut membentuk reputasinya. Dalam praktik hukum yang sering bersinggungan dengan kepentingan politik, kemampuan membaca momentum menjadi penting. Damai menunjukkan dirinya piawai memainkan ruang tersebut, baik di meja hijau maupun di ruang opini publik.

Kemunculan Damai di televisi bukan sekadar sebagai komentator hukum. Ia hadir sebagai aktor yang ikut membentuk narasi. Penjelasannya sering disampaikan dengan bahasa lugas, mudah dipahami, namun tetap sarat rujukan normatif.

Di tengah era ketika perkara hukum cepat berubah menjadi perdebatan politik, figur seperti Damai menjadi bagian dari ekosistem baru: advokat publik. Mereka tidak hanya bekerja di ruang sidang, tetapi juga di ruang persepsi masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan perubahan wajah profesi advokat di Indonesia. Jika dahulu pengacara identik dengan kerja sunyi di balik berkas perkara, kini sebagian tampil terbuka, bahkan menjadi figur yang dikenal luas. Damai Hari Lubis berada di garis depan perubahan itu.

Nama Damai kembali ramai diperbincangkan setelah muncul kabar penghentian penyidikan (SP3) dalam perkara dugaan terkait ijazah Presiden Joko Widodo. Isu ini dengan cepat menyebar di ruang publik, memicu perdebatan panjang antara kubu yang menilai proses hukum telah selesai dan pihak yang masih mempertanyakan substansi kasus.

Dalam konteks seperti ini, figur Damai kembali menjadi sorotan. Bukan hanya karena posisinya dalam perkara, tetapi juga karena rekam jejaknya yang lekat dengan isu-isu sensitif secara politik. Publik pun menilai setiap langkah dan pernyataannya bukan sekadar tindakan hukum, melainkan bagian dari dinamika politik yang lebih luas.

SP3 sendiri dalam sistem hukum pidana Indonesia merupakan mekanisme formal yang menandai penghentian proses penyidikan karena alasan tertentu—mulai dari tidak cukup bukti hingga peristiwa yang bukan tindak pidana. Namun dalam perkara yang bersinggungan dengan figur publik tingkat nasional, keputusan hukum hampir selalu melahirkan tafsir politik.

Perjalanan Damai Hari Lubis memperlihatkan batas yang kian tipis antara profesi hukum dan panggung publik. Ia tidak hanya berperan sebagai pembela di pengadilan, tetapi juga sebagai komunikator yang memengaruhi persepsi masyarakat terhadap suatu perkara.

Di sinilah letak kompleksitasnya. Seorang advokat dituntut setia pada kepentingan klien dan prinsip hukum. Namun ketika sorotan publik begitu besar, setiap kata dapat dimaknai sebagai sikap politik. Damai tampaknya memahami risiko itu—dan memilih tetap berada di garis depan.

Bagi sebagian orang, ia adalah simbol keberanian melawan arus. Bagi yang lain, ia representasi kerasnya pertarungan politik dalam balutan hukum. Apa pun penilaiannya, satu hal sulit dibantah: Damai Hari Lubis telah menjelma menjadi salah satu figur advokat paling dikenal dalam lanskap hukum Indonesia kontemporer.

Dan selama perkara-perkara besar masih lahir di negeri ini, suara lantang dari Sumatra Utara itu tampaknya belum akan benar-benar senyap.