Fenomena astronomi berupa pink moon akan menghiasi langit malam pada Rabu (1/4/2026).
Meski namanya pink moon, fenomena itu tidak menyebabkan bulan berwarna merah jambu.
Nama pink moon berasal dari masa ketika orang menyebutnya berdasarkan momen musiman di alam, untuk melacak bulan yang terlalu.
Di periode itu, bunga berwarna merah bermekaran di Amerika Utara secara rutin setiap tahun.
Purnama di bulan April memiliki peran tambahan yang penting karena merupakan kunci dalam menentukan tanggal Paskah dan Passover.
Lantas, apakah fenomena tersebut bisa disaksikan di langit Indonesia?
Bisa disaksikan di Indonesia
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, mengatakan fenomena pink moon dapat disaksikan di Indonesia mulai Rabu (1/4/2026) malam.
“Purnama pink tahun ini terjadi pada Rabu malam hingga Kamis, 1-2 April 2026,” ucapnya, saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (30/32026).
“Dapat diamati tanpa alat atau dengan teleskop plus kamera,” imbuh Thomas.
Masyarakat dapat mulai menyaksikannya pada pukul 18.00 WIB sampai dengan menjelang Matahari terbit di hari berikutnya.
Meski demikian, Thomas memastikan bahwa fenomena ini tidak menyebabkan warna bulan menjadi merah jambu.
Dia bilang, warna Bulan pada malam itu serupa dengan bulan purnama pada umumnya, yaitu putih kekuningan.
“Purnama pink hanya penamaan orang Amerika untuk purnama pada bulan April,” tuturnya.
Apa itu pink moon?
Dilansir dari laman resmi BRIN, nama pink moon muncul dari bunga phlox atau semacam Geranium yang berwarna merah jambu yang tumbuh dan mekar di bulan April, menurut almanac pada petani di Amerika Serikat.
Bunga ini tumbuh di benua Amerika.
Pada saat itu, masyarakat setempat memberikan nama-nama setiap bulan purnama sesuai dengan musim yang terjadi.
Pink Moon juga dikenal sebagai Purnama Paskah karena beriringan dengan Hari Raya Paskah bagi umat Kristiani.
Jadi kunci penentuan Paskah
Dikutip dari BBC, bulan purnama pertama yang mengikuti ekuinoks musim semi ini menjadi penentuan Hari Paskah.
Selama berabad-abad, berbagai bagian gereja Kristen menggunakan kalender yang berbeda, yakni Gregorian dan Julian – yang berarti bahwa Paskah tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama di seluruh dunia.
Upaya untuk menyatukan semua orang menyebabkan banyak negara di Eropa Timur kini menggunakan kalender Gregorian untuk acara-acara sipil, sementara mereka menggunakan kalender Julian untuk memperingati festival-festival Ortodoks.
Tanggal ekuinoks astronomi juga cenderung berfluktuasi secara alami antara 20 dan 21 Maret. Pada tahun 2026, ekuinoks terjadi pada tanggal 20 Maret.
Namun, gereja Kristen memutuskan untuk ‘menetapkan tanggal tetap’ untuk membantu menertibkan perhitungannya sendiri dan selalu menggunakan tanggal 21 Maret.
Karena bulan purnama pertama setelah tanggal 21 Maret adalah Bulan Merah Muda pada tanggal 2 April, itu berarti Paskah jatuh pada hari Minggu berikutnya, yakni 5 April 2026.(Sumber)












