News  

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto: Fundamental Ekonomi RI Lebih Kuat Hadapi Krisis Global

Airlangga Hartarto (IST)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi Indonesia saat ini dinilai lebih kuat dibandingkan ketika menghadapi krisis ekonomi pada 2005 maupun krisis keuangan global 2008.

Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari tekanan geopolitik, fluktuasi harga energi dunia, hingga pelemahan ekonomi di sejumlah negara besar. Pemerintah, kata dia, terus memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional agar Indonesia tetap mampu menghadapi potensi gejolak global.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen, jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya,” ujar Airlangga.

Airlangga menjelaskan, pengalaman Indonesia menghadapi krisis pada 2005 dan 2008 menjadi pelajaran penting dalam memperkuat sistem ekonomi nasional. Pada 2005, lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai sekitar 140 dolar AS per barel sempat memicu tekanan inflasi tinggi di dalam negeri. Sementara pada 2008, krisis finansial global menyebabkan gejolak nilai tukar dan tekanan terhadap sektor keuangan nasional.

Meski demikian, pemerintah menilai kondisi ekonomi saat ini jauh lebih siap menghadapi tekanan global dibanding periode sebelumnya. Stabilitas makroekonomi dinilai lebih terjaga dengan inflasi yang relatif terkendali, konsumsi domestik yang tetap kuat, serta sistem perbankan yang dinilai lebih sehat.

Pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai regulasi untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dan memperkuat permodalan perbankan nasional. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan ketahanan sistem keuangan tetap solid di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.

Dalam pembahasan terkait antisipasi krisis, Presiden Prabowo Subianto turut mengundang sejumlah tokoh ekonomi senior dan mantan pejabat Bank Indonesia untuk berbagi pengalaman menghadapi krisis ekonomi masa lalu. Pertemuan itu membahas strategi penguatan ekonomi nasional, pengawasan sektor keuangan, hingga langkah menjaga stabilitas rupiah dan sistem perbankan.

Airlangga menambahkan, pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga kepercayaan pasar dan memastikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di tengah tekanan global.

Di sisi lain, pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di atas rata-rata negara G20 dengan mengandalkan konsumsi domestik, hilirisasi industri, dan penguatan investasi strategis. (Sumber)