Langkah hukum tegas diambil oleh tokoh adat perempuan Suku Marind-Anim dari Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend alias Mama Sinta.
Didampingi tim kuasa hukumnya, pejuang lingkungan berusia 62 tahun ini resmi mendatangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan dugaan perekaman dan penayangan wajahnya tanpa izin dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi.
Pihak kuasa hukum menilai ada unsur pemanfaatan sepihak yang merugikan kliennya dalam proyek film tersebut.
“Seorang anak bangsa, berusia 62 tahun, dieksploitasi tanpa perizinan yang sah dan pengakuan yang sah dari Mama Sinta,” tegas kuasa hukum Mama Sinta, TS Hamonangan Daulay, kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Hamonangan menjelaskan, laporan polisi ini sengaja dilayangkan karena kliennya merasa dirugikan secara personal. Wajah dan figur personalitas Mama Sinta dianggap telah dieksploitasi demi kepentingan film tanpa pernah ada dokumen persetujuan resmi.
“Kita hari ini fokus dalam rangka pembuatan LP (Laporan Polisi) dulu dan hari ini masih berproses,” tambah Hamonangan yang berjanji akan membeberkan detail surat tanda penerimaan laporan (STTPL) setelah diterbitkan penyidik.
Di tempat yang sama, Mama Sinta menceritakan awal mula dirinya menyadari wajahnya dicatut dalam film karya antropolog Cypri Paju Dale dan jurnalis investigasi Dandhy Laksono tersebut.
Kisah pilu ini bermula pada 8 April 2026 lalu, saat seorang pria bernama Tigor mengajaknya ke Susteran Maranatha-Waena di Jayapura.
Kala itu, dengan kepolosannya, Mama Sinta mengira diundang untuk menghadiri tradisi adat potong babi yang sesungguhnya.
“Yang ajak saya ke Jayapura untuk kegiatan (nonton Pesta Babi) itu Bang Tigor. Jadi setelah selesai kegiatan, dia ajak kita nonton film Pesta Babi. Jadi saat itu saya tahunya mau potong babi betulan. Ternyata kita naik Susteran Maranatha, yang diputar ternyata film Pesta Babi,” tutur Mama Sinta pilu.
Bak tersambar petir di siang bolong, Mama Sinta kaget bukan main saat melihat parasnya sendiri muncul di layar lebar dan ditonton khalayak luas. Rasa kecewa dan sakit hati mendalam pun berkecamuk di benaknya.
“Di situ saya lihat sendiri, saya saksikan sendiri. Kenapa wajah saya ditampil di depan banyak orang tanpa seizin dari saya. Itu yang saya sakit hati dan kecewa dengan keluarga saya,” keluhnya.
Perempuan paruh baya ini menegaskan tidak pernah sekalipun dimintai persetujuan, diwawancarai khusus, atau diajak terlibat dalam proses produksi film Pesta Babi. Atas dasar itulah, ia menuntut agar sirkulasi dan pemutaran film tersebut segera dihentikan total di seluruh Indonesia.
“(Apakah meminta untuk pemutaran filmnya dihentikan?) Dihentikan. Seandainya ada yang putar film itu, tolong proses orang itu,” desak Mama Sinta.
Mengaku Dimanfaatkan LBH
Di balik pelaporan film tersebut, terungkap pula kisah haru mengenai kondisi ekonomi Mama Sinta. Dirinya blak-blakan mengaku sangat kecewa terhadap oknum Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Pusaka yang selama ini mendampinginya. Ia merasa diseret dan dimanfaatkan untuk membangun narasi negatif yang menyerang proyek strategis nasional (PSN) lumbung pangan pemerintah di Papua Selatan.
“Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” ungkapnya dalam rekaman video terpisah.
Selama enam bulan bolak-balik Papua, Makassar, hingga Jakarta bersama pihak LBH, Mama Sinta mengaku hanya mendapatkan rasa lelah yang teramat sangat tanpa ada kejelasan nasib, sementara tiga anaknya masih menganggur dan butuh pekerjaan.
“Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH Pusaka,” tuturnya sambil memperlihatkan kondisi dapurnya yang memprihatinkan karena terpaksa memasak menggunakan kayu bakar akibat kompornya rusak.
Merasa telah menjadi korban alat propaganda, Mama Sinta menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada pemerintah atas sikap vokalnya terdahulu yang menentang pembangunan. Kini, ia menyatakan berbalik arah 180 derajat untuk mendukung penuh program PSN di bawah Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto demi masa depan kesejahteraan masyarakat adat di kampungnya.
“Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung, perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan,” tutup Mama Sinta.(Sumber)












