HeadlineNews

Kenapa Idul Fitri Ramai di Indonesia Tapi Sepi di Arab?

0
Arab bukan Indonesia, dan Indonesia bukan Arab. Sekelompok mahasiswa Indonesia di jazirah Arab sempat mengusulkan takbir keliling. Jawabannya: tidak. Alasannya: bukan adat setempat dan akan bikin gaduh.
Jalanan di kota Tarim, Hadramaut, Yaman, malam itu lengang dan hening. Tak ada takbir keliling atau bocah-bocah berlarian bermain petasan. Padahal, esok sudah tanggal 1 Syawal. Waktunya umat Islam merayakan Idul Fitri, hari raya besar agama mereka.
“Kalau Idul Fitri (di sini) enggak terlalu meriah,” kata Muhammad Ihsan Ramadhan, seorang mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Universitas Al Ahghaff, Yaman—negara di selatan Arab Saudi.
Masyarakat Arab menyambut Idul Fitri lebih tenang karena sehari sesudahnya mereka langsung kembali beribadah.
“Masuk ke Syawal hari kedua, orang-orang di sini langsung puasa Syawal enam hari. Jadi kondisinya hampir sama dengan Ramadhan,” cerita Ihsan, Selasa (19/5).
Puasa enam hari Syawal memang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Mengutip dari hadis sahih Muslim, “Barang siapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama enam hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.”
Itu sebabnya, di jazirah Arab, Lebaran tak ubahnya semacam penanda jeda antara akhir Ramadhan dan awal Syawal, tak seistimewa di Indonesia.
Pernah suatu waktu kumpulan mahasiswa Indonesia di Yaman meminta izin kepada ustaz setempat untuk menggelar takbir keliling. Namun ide tersebut ditolak karena dua alasan. Pertama, bukan adat masyarakat Arab; kedua, akan bikin gaduh.
Biasanya, di hari Idul Fitri, warga setempat hanya menggemakan takbir di masjid-masjid mulai dini hari. Memasuki waktu subuh, sebagian warga berziarah ke makam leluhur, sementara lainnya sibuk memberikan zakat kepada mereka yang tidak mampu. Pagi hari, barulah salat Idul Fitri digelar.
Ihsan biasa salat Idul Fitri di Jabanah, tanah lapang di samping pemakaman umum Fruet. Tempat itu hanya akan diisi oleh jemaah laki-laki. Sebab, lagi-lagi beda dengan di Indonesia, di Arab perempuan melaksanakan salat Idul Fitri di rumah masing-masing.
Salat Idul Fitri biasanya tak berlangsung lama. Setelahnya, Ihsan langsung kembali ke asrama untuk berkumpul bersama mahasiswa rantau dari Indonesia.
Mereka mengobati rindu tanah air dengan menyiapkan hidangan khas seperti opor dan soto. Hidangan disantap sambil bermaaf-maafan. Sesudah itu, semua kembali ke kegiatan masing-masing.
Hah, sudah? Tak ada acara silaturahmi ke teman atau open house di beberapa tempat seperti di Indonesia?
Nyatanya, memang tidak. Beda dengan di Indonesia yang sedari pagi, siang, hingga malam jamaknya ramai oleh orang-orang yang hendak bersilaturahmi.
Paling-paling masyarakat Yaman hanya berkunjung ke rumah tetangga terdekat sebentar. Dan tak sampai tengah hari, mereka sudah kembali ke rumah masing-masing.
“Jadi pagi sampai siang jalanan sepi kayak kota mati. Warga istirahat. Satu kota itu tidur sampai jam 13.00 siang. Barulah siang sampai sore, mereka isi dengan kegiatan-kegiatan baca Al-Quran dan majelis taklim. Besoknya puasa lagi,” tutur Ihsan.
Tahun 2020 ini adalah tahun keenam Ihsan di Yaman—yang tentu terasa jauh berbeda dengan di kampung halaman sendiri.
Di tempat asal Ihsan di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, ada tradisi Hari Raya Ketupat di tanggal 6 Syawal. Setelahnya pun masih banyak acara silaturahmi seperti halalbihalal keluarga besar dan rekan sejawat.
“Idul Fitri itu kan identik dengan perayaan hari kemenangan, tanpa harus melebihkan. Tapi kalau ana lihat (di sini) ya cuma lewat saja. (Semacam) jeda,” kata Ihsan yang mengambil studi syariah dan hukum di Yaman.
Akan tetapi, pemandangan berbeda terjadi saat Idul Adha. Perayaan hari kurban itu di Arab lebih semarak dan panjang ketimbang di Indonesia. Sementara libur Idul Adha di Indonesia hanya sehari, di Arab pelajar bisa libur sampai dua bulan!
Masyarakat di sana biasa menyambut Idul Adha dengan kegiatan Tasyabbuh bil Arafah atau serupa dengan ibadah haji di Arab Saudi. Mereka berkumpul di masjid untuk berpuasa dan mengaji. Kegiatan itu berlangsung hingga hari raya Idul Adha 10 Zulhijjah.
Seusai salat Idul Adha pun banyak anak kecil lalu-lalang di jalanan, sementara takbir terus bergema di masjid-masjid hingga tiga hari setelahnya (takbir Idul Adha dianjurkan hingga tanggal 13 Zulhijah. Dan tempat pemotongan hewan ramai dikunjungi untuk persiapan ibadah kurban.
“Orang-orang yang kaya mengeluarkan hartanya, kemudian dibagikan ke fakir miskin. Jadi agak meriah. Kalau dulu potong kurbannya di rumah-rumah.”
“Setiap rumah itu potong kurban, kemudian dibagikan ke tetangga dan masyarakat. Hampir di setiap rumah. Kalau sekarang di tempat pemotongan hewan,” papar Ihsan.
Ramainya Idul Adha di Arab juga terkait kepercayaan yang dianut masyarakat setempat. “Ada beberapa faktor kenapa Idul Adha (di sini) lebih ramai, lebih utama, dan lebih afdal.
Mengutip dari Al-Quran surat Al-Kautsar, salatlah kalian kemudian berkurban. Jadi (amalan) apa setelah salat yang paling afdal? Ya berkurban,” jelas Ihsan.
Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Yon Machmudi, melihat perbedaan tradisi tersebut adalah hasil dari persepsi masyarakat Arab dan Indonesia dalam memandang dua hari raya besar Islam itu.
Di Arab, tempat Islam bermula, Idul Adha dipandang sebagai hari raya yang lebih besar daripada Idul Fitri.
“Karena di hari raya Idul Adha ada rangkaian haji sebelumnya. Seremoninya lebih besar, apalagi negara-negara, terutama Arab Saudi, kan sangat dekat dengan Makkah dan Madinah,” jelas Yon kepada kumparan, Rabu (20/5).
Momen Idul Adha juga menjadi kesempatan masyarakat Arab untuk menerima tamu-tamu Allah dari berbagai negara yang melaksanakan ibadah haji—di masa normal sebelum pandemi menyerang.
Maka, dengan rangkaian acara panjang tersebut, libur nasional untuk Idul Adha di Arab jadi lebih panjang dari Idul Fitri. Orang-orang memiliki waktu panjang untuk saling bersilaturahmi. Selain itu, para perantau juga mudik kala Idul Adha.
“Kalau Idul Adha di Indonesia tidak ada momen-momen itu. Yang ada, orang mau berangkat haji. Nah, kalau berangkat haji justru malah meninggalkan tanah air sehingga tidak ada kesempatan untuk merayakan Idul Adha,” terang Yon.
Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri lebih meriah di Indonesia. Terlebih, ini tak lepas dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
Akar sejarah
Dulu, saat usia kemerdekaan RI masih seumur jagung, tepatnya 1948, Indonesia mulai dilanda gejala disintegrasi. Para elite politik bertengkar dan enggan duduk dalam satu forum.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya pemberontakan di berbagai daerah seperti DI/TII di Jawa Barat dan PKI di Madiun.
Untuk mencari solusi, Sukarno kemudian memanggil Kiai Abdul Wahab Hasbullah, tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, ke Istana Negara. Muncullah saran dari Kiai Wahab agar Bung Karno menyelenggarakan silaturahmi karena sebentar lagi sudah hari raya Idul Fitri.
“Silaturahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain,” jawab Bung Karno.
“Itu gampang. Begini, para elite politik tidak mau bersatu itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan.”
“Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan,” kata Kiai Wahab. “Sehingga silaturahmi nanti kita pakai istilah ‘halal bi halal’.”
Saran Kiai Wahab itu diterima Bung Karno. Oleh karena itu, pada Idul Fitri tahun 1948, Sukarno mulai mengundang semua tokoh politik untuk menghadiri silaturahmi di Istana Negara yang bertajuk ‘Halal bi Halal’.
Dalam acara tersebut, akhirnya para tokoh dapat duduk dalam satu meja sebagai babak baru untuk menyusun persatuan bangsa.
Kisah tersebut diceritakan Rais Syuriyah Pengurus Besar NU, Kiai Masdar Farid Mas’udi, dalam NU Online. Sejak 1948 itulah instansi-instansi pemerintah mulai menyelenggarakan halalbihalal.
Halalbihalal kemudian mulai menjadi tradisi masyarakat secara luas, terutama muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. “Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah.”
“Jadilah halalbihalal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang,” ujar Kiai Masdar.
Soal kenapa Idul Fitri dirayakan begitu meriah, menurut Yon Machmudi, juga terkait tradisi yang sudah mengakar di Indonesia.
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Indonesia dalam tradisi agama Hindu-Buddha sudah terbiasa mengekspose perayaan hari-hari besar secara meriah. Biasanya dengan berjalan kaki, pawai, dan arak-arakan di jalanan.
Tradisi tersebut tak begitu saja tercabut saat Islam datang dan menjadi agama mayoritas.
Itulah mengapa, merujuk pada pendapat antropolog Koentjaraningrat, kemudian muncul istilah Islam sinkretis—yang berarti hasil penyelarasan dua atau lebih prinsip yang berlainan hingga membentuk suatu prinsip baru yang berbeda dengan prinsip-prinsip sebelumnya.
Tradisi-tradisi “sinkretis” yang berkembang di Indonesia hingga kini antara lain membangunkan sahur dengan ronda atau pengeras suara masjid, dan takbir keliling—praktik yang justru tak ada di negara-negara Arab.
“Keagamaan di Indonesia itu lebih ekspresif, lebih dinyatakan ke publik. Perayaannya lebih besar dibandingkan di negara-negara Arab,” kata Yon.
Terlebih, imbuhnya, “Puasa itu kan sesuatu yang berat… sehingga setelah orang berpuasa, keberhasilannya dirayakan.” {kumparan}

821 Kg Sabu Jaringan Iran Masuk Banten Lewat Tanjung Lesung

Previous article

Video Viral! Ada Markas Bawah Tanah Alien di Raja Ampat Papua Barat?

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *