News  

Diserang Ribuan Buzzer Tiap Kritik Pemerintah, Sujiwo Tedjo: Bikin Kesan Pak Jokowi Anti Kritik

Budayawan Sujiwo Tedjo mulai tidak bisa mendiamkan ulah akun-akun anonim yang menyerangnya di saat dirinya memberikan kritik terhadap kinerja ataupun kebijakan pemerintah.

Sujiwo Tedjo menyebut, ia sudah ribuan kali diserang akun-akun buzzer tersebut dengan menggunakan kalimat cacian, hujatan hingga hinaan.

Sujiwo pun mencontohkan dengan membalas salah satu akun yang meyerangnya. Karena akun itu sering menghina, Sujiwo Tedjo bahkan sampai hafal.

“Sejak ILC buba, akun ini entah kesekian ribu berapa yang menyerangku dengan isi twit nyaris seragam sehingga basi bagiku. Heuheu.. Faktanya panggungku masih di mana-mana, nulis, nglukis dll. Ini lagi syuting film.

Dan wayang itu kehidupan. Wajar kalau dalang komen apa pun tentang kehidupan,” tulis Sujiwo Tedjo melalui akun Twitternya, Senin (25/1/2021).

Sujiwo menyebut, penyerahan buzzer untuk menyerang pengkritik pemerintah justru mengesankan bahwa Presiden Joko Widodo sebagai sosok anti-kritik. Ia menyebut bahwa keberadaan para buzzer itu justru akan merugikan Jokowi sendiri.

“Bisa aja akun-akun ber-angka itu sejatinya bukan dari pihak penguasa, tapi penumpang gelap. Karena dengan selalu gerudukan nyerang pengritik penguasa, mereka justru mengesankan bahwa Pak Jokowi antikritik. Ini justru merugikan Pak Jokowi. Mungkin inilah emang goal mereka. Waspadalah,” jelas Sujiwo Tedjo.

Di sisi lain, Sujiwo Tedjo tidak percaya bahwa Jokowi langsung yang mengerahkan akun-akun itu. Ia yakin itu bukan inisiatif dari Jokowi, sebab Sujiwo Tedjo mengaku mengenal bagaimana sosok Jokowi.

Justru, ia curiga jangan-jangan para buzzer itu dikerahkan oleh penumpang gelap yang ingin ‘menjatuhkan’ nama baik presiden Jokowi.

“Dengan selalu diserbu gerombolan akun-akun ber-angka tiap aku ngritik penguasa, pandanganku ke Pak Jokowi bisa buruk andai aku tak kenal pribadi dengan beliau.

Untung aku kenal pribadi. Karena itu terpikir, jangan-jangan akun-akun ber-angka ini justru penumpang gelap untuk menjatuhkan Pak Jokowi,” terang Sudijo Tedjo.

Rizal Ramli alami nasib serupa

Ekonom Rizal Ramli selama ini dikenal sebagai sosok yang vokal mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman bahkan sudah sering terbiasa menghadapi serangan dari pihak-pihak yang tidak sepemikiran, terutama para pembela pemerintah.

Bersama Said Didu dan Fadli Zon, Rizal Ramli dikenal sebagai ‘Trisula’ yang rajin memberikan kritik atau komemtar terhadap langkah-langkah pemerintah.

Namun, belakangan Rizal Ramli merasakan serangan dunia maya kepada dirinya makin massif. Serangan tersebut sebagai respon cuitan Rizal yang berkomentar tentang hal tertentu.

Dalam sepekan terakhir saja, Rizal mengaku mendapatkan serangan dari setidaknya 7000 akun yang ia sebut buzzerRP. Serangan juga datang dari para influencer.

Rizal mengatakan, serangkan kepada dirinya akan lebih massif lagi dalam pekan-pekan mendatang.

Ia juga menduga, ada pihak yang menggerakkan para buzzer dan influencer tersebut untuk menyerang dirinya.

“Tolong bantu ‘fight back’ kawan2 sosmed. Seminggu terakhir, 7000an buzzerRP serang RR dgn kosa kata itu2 aja, kasar $ nora Grinning faceGrinning face belum lagi influenser2 nora minus kecerdasan.

Minggu ini akan lebih masif lagi, ada yg perintahkan,” tulis Rizal Ramli dalam akun twitternya. Meski demikian, RR, sapaan Rizal Ramli percaya para buzzer yang menyerangnya itu bukanlah utusan presiden Joko Widodo maupun Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko.

RR pun meminta agar orang yang membayar atau menggerakkan para buzzer itu untuk tidak menjadi pengecut.

“Serangan2 ribuan buzzer & influensers yang tidak cerdas dan nora thd RR selama seminggu terakhir, saya yakin bukan atas perintah Presiden @jokowi atau Mas @Dr_Moeldoko, tapi membantu membusukkan JKW. Yg beri perintah dan bayar ngaku dong, jangan jadi pengecut,” tulisnya lagi.

Cuitan Rizal Ramli tersebut mendapat respon dari banyak netter lain, khususnya para pendukungnya. Mereka meminta Rizal Ramli tak gentar dalam menyuarakan kebenaran atau kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tepat. {tribun}