News  

Demo ‘Tangkap dan Adili Jokowi’ Tak Menarik Lagi! Massa Sedikit, Loe Lagi Loe Lagi!

Serius bertanya. Ada apa? Apa isu tangkap dan adili Jokowi kurang menarik? Padahal banyak tokoh nasional turun gunung. Pemimpin pergerakan juga turun. Namun massa yang hadir segitu-gitu aja. Wajah-wajah tak asing. L-4. Loe lagi loe lagi. Lebih terkesan seperti reuni pendemo. Demo sejak Jokowi masih berkuasa hingga Jokowi lengser. Orangnya itu-itu aja. Baik demo di DPR, Istana maupun di KPK.

Ini yang kita khawatir. Rakyat sudah tak perduli lagi dengan negara. Negara tidak adil kata mereka. Takut ambil risiko. Wercok, wereng cokelat represif. Takut di “Affan Kurniawan” kan. Akhirnya bersikap masa bodoh. Apriori dan sinis. Karena tuntutan, maaf, tidak menyangkut soal perut rakyat. Terlalu politis dan elitis.

Coba misalnya sabotase gas melon elpiji. Yang pernah mau dibatasi distribusinya oleh menteri “termul” alias ternak Mulyono. Pasti rakyat bergerak karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Bisa juga kasus sensitif lainnya. Isu agama. Seperti Ahok yang kepeleset lidah. Ummat Islam turun ke jalan tanpa dikomando. Demo berjilid-jilid. Hingga Ahok dipenjara.

Ini juga bisa menjadi alasan. Kenapa massa demo L-4. Makin transaksionalnya rakyat. Mau hadir bila gratis dan diberi fulus, baru banyak yang hadir seperti fenomena dalam pemilu. Mobilisasi massa. Ada amplop. Ada sembako. Ada suara.

Bohir-bohir tiarap. Lihat dulu kemana angin berhembus. Kecuali bohir yang bermasalah. Terjerat hukum. Dibidik aparat penegak hukum. Itupun demo rusuh untuk menjatuhkan Prabowo. Bukan rusuh untuk tangkap dan adili Jokowi.

Politisi dan tokoh nasional pun sama. Tidak berani turun. Tidak berani berkonfrontasi secara terbuka. Cari aman. Bahasa kerennya, safety player. Wait and see! Mencari celah untuk cari dan curi simpati. Ada efek dukungan tidak. Baik terhadap pendukung maupun lawan politik.

Demo murni mendobrak dugaan korupsi Jokowi yang disebut oleh OCCRP peraih runner up pemimpin terkorup di dunia. Boro-boro dapat fulus dan sembako. Malah harus swadaya sewa kendaraan. Makan bayar masing-masing. Itupun bila ada uang. Tidak ada uang “puasa”.

Sangat sulit bila Jokowi dan ternaknya ingin di “Nepal” kan. Ketika negara tidak hadir untuk rakyat. Rakyat yang berani dan idealis pun nyaris hanya sekian persen dari populasi rakyat yang apatis dan masa bodoh kecuali;

Pertama, Isu menyangkut perut rakyat dan isu sensitif lainnya seperti isu agama.

Kedua, Demo rusuh yang ditunggangi politik. Seperti demo rusuh “massa binaan” peristiwa Agustus kelabu. Bakar-bakar gedung dan penjarahan. Presiden baru turun tangan.

Jadi bila demo tangkap dan adili Jokowi biasa-biasa saja seperti yang sudah-sudah. Demo yang tidak ngepek. Mungkin akan lain ceritanya bila gedung KPK dibakar rakyat. Apakah harus bakar-bakar dulu baru Jokowi ditangkap dan diadili?

Wallahua’lam bish-shawab
Bandung, 11 Rabiul Tsani 1447/3 Oktober 2025
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis