News  

Jelang Muktamar ke-35 NU, Kader Dorong NU Lepas dari Belenggu Kekuasaan

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya pada tahun 2026 yang bertepatan dengan satu abad lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, wacana pembaruan arah gerakan NU kembali mengemuka. Sejumlah kader menilai momentum satu abad NU harus menjadi titik balik untuk menjadikan NU lebih mandiri, progresif, dan tidak terjebak dalam kepentingan politik kekuasaan.

Hal tersebut disampaikan Damuri Fikri, salah satu kader NU, saat ditemui di Jakarta, Selasa (18/11/2025). Ia menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi NU ke depan tidak hanya terbatas pada ranah sosial politik atau penguatan kaderisasi, tetapi juga terkait kemampuan organisasi dalam menjawab transformasi digital keagamaan, pragmatisme politik elektoral, meningkatnya kompetisi antar kelompok Islam, serta kebutuhan memperkuat kemandirian ekonomi umat.

“Dalam sejarah NU, eksistensinya dibangun melalui jalan negara, jalan politik, atau jalan tradisi — bahkan kombinasi dari ketiganya,” ujar Damuri.
Namun, ia menilai situasi politik belakangan ini menuntut NU menentukan prioritas yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan umat. Karena itu, NU membutuhkan figur kepemimpinan yang tangguh, energik, dan berani mengambil keputusan strategis untuk kemaslahatan warga Nahdliyyin dan masyarakat Indonesia secara umum.

Damuri menilai saat ini terjadi krisis keteladanan dan krisis regenerasi dalam kepemimpinan NU. Kondisi ini, menurutnya, sangat dipengaruhi oleh kemampuan warga NU sendiri dalam memilih figur pemimpin yang tidak hanya populer, tetapi juga relevan dengan tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar NU yang telah menjadi fondasinya sejak berdiri.

“Kami menawarkan figur orang muda yang tidak terkontaminasi kepentingan politik kekuasaan yang selama ini membelenggu NU. Figur yang lebih dekat dengan kepentingan Nahdliyyin dan masyarakat luas ketimbang kepentingan penguasa,” tegasnya.

Damuri kemudian menyebut nama Fakhrurozy Abdulloh sebagai sosok yang layak dipertimbangkan untuk memimpin NU ke depan. Fakhrurozy, pengasuh Pondok Pesantren Baity Jannaty Arrozy di Cilacap, Banyumas, Surabaya, serta Ponpes Al-Ikhlas Cirebon, juga dikenal sebagai pengurus DPP Himpunan Nelayan Tradisional Indonesia (HNTI). Di usianya yang masih sekitar 55 tahun, ia dinilai sebagai figur muda dengan kapasitas keulamaan dan manajerial yang kuat.

“Beliau adalah Fakhrurozy Abdulloh. Saatnya NU harus mandiri, lepas dari belenggu kepentingan politik penguasa,” pungkas Damuri yang juga merupakan ketua tim sukses Fakhrurozy.

Wacana ini diperkirakan akan turut mewarnai dinamika jelang Muktamar ke-35 yang diprediksi berlangsung hangat seiring bertemunya kepentingan pembaruan, tradisi, dan politik internal NU.