Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta tak cepat puas dengan penetapan John Field sebagai tersangka. Muncul nama Gito Huang, sosok yang diduga berada di balik layar PT Blueray Cargo. Publik menunggu keberanian lembaga antirasuah membongkarnya.
“Jika yang bersangkutan sudah dicurigai maka KPK perlu segera mencari tahu latar belakang yang bersangkutan,” kata pakar hukum dari Universitas Bung Karno, Hudi Yusuf ketika dihubungi Inilah.com, Senin (16/2/2026).
KPK harus mengurai sejauh mana keterlibatan aktif Gito Huang dalam perkara dugaan suap kepada oknum Bea Cukai terkait pengkondisian jalur impor.
“Menurut saya yang bersangkutan harus dibuktikan keterlibatan aktifnya,” ucap Hudi.
Jika konstruksi hukumnya kuat dan alur perbuatannya terang, bukan tak mungkin Gito Huang maupun korporasi Blueray ikut menyandang status tersangka.
“Keduanya dapat di proses hukum apabila ada arah yang jelas dalam perbuatan pidananya tanpa alur yang jelas sulit diproses hukum,” ucap Hudi.
Diketahui, muncul sosok lain yang diduga bos sebenarnya dari Blueray Cargo, namanya Gito Huang. Memang situs resmi perusahaan tak mencantumkan Gito sebagai jajaran petinggi.
Tapi penelusuran di media sosial menunjukkan Gito Huang memiliki kaitan erat dengan Blueray Cargo. Sejumlah akun LinkedIn jajaran pejabat perusahaan forwarder itu terkoneksi dengan akun Gito Huang.
Gito Huang disebut suka menetap di China, tetapi sering pulang ke Indonesia untuk mengawasi bisnis-bisnisnya. Bukan saja dugaan ia pemilik Blueray Cargo, Gito juga disinyalir punya guritas bisnis, dari aplikasi, portal berita hingga industri hiburan.
Melalui PT Komunitas Anak Bangsa (Koanba) Gito membangun sebuah aplikasi bernama Kipaskipas, platform sosial media shopping seperti IG Shop dan TikTok Shop. Pengembangannya dilakukan sejak awal masa pandemi COVID-19, sekitar tahun 2020, kini sudah tak beroperasi lagi.
Koanba pernah berkantor di rumah tiga lantai serba putih di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, persis di samping SPBU. Di lokasi itu pula berdiri PT Portal Media Nusantara dengan produk media online bernama Pinusi. Belakangan, media ini kena semprit Dewan Pers karena disebut berjalan autopilot dan struktur redaksinya disinyalir fiktif.
Di alamat yang sama, Gito diduga membangun rumah produksi konten YouTube, video profil perusahaan hingga TikTok. Awalnya bernama VIP. Artis kontroversial Vicky Prasetyo sempat disebut terlibat, namun mundur karena pecah kongsi. Nama VIP kemudian berubah menjadi V-me Creative sebelum akhirnya juga tak beroperasi. Tiga lini bisnis ini disebut dikelola dua orang kepercayaan Gito, Tian dan Ronny.
Jejaknya di dunia hiburan pun nyata. Gito tercatat sebagai Eksekutif Produser film Anak Kunti yang rilis 20 Februari 2025. Film itu diproduksi 2024, kolaborasi Drias Production dan aplikasi Kipaskipas.
Ia juga dikabarkan dekat dengan manajer artis Nanda Persada. Bahkan siniar Podskuy, yang pernah digawangi Boris Bokir, Gading Marten, Uus, dan Andhika Pratama, beberapa kali melakukan syuting di lobi kantor Gito.
KPK membuka peluang memanggil Gito Huang terkait kasus suap impor di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
“KPK terbuka peluang memanggil pihak-pihak yang dipandang perlu,” kata Jubir KPK, Budi Prasetyo ketika dihubungi Inilah.com, Jumat (13/2/2026).
Saat ini, KPK masih mengumpulkan informasi terkait Gito Huang yang disebut sebagai pemilik asli Blueray Cargo, bukan John Field yang telah dikerangkeng KPK. Pendalaman dilakukan untuk memastikan konstruksi perkara menjadi jelas dan utuh.
“KPK terbuka peluang memanggil pihak-pihak yang dipandang perlu dan dibutuhkan oleh penyidik dalam mengungkap perkara ini agar menjadi terang,” ucap Budi.(Sumber)












