Tentu manusia berhati nurani mengecam pembunuhan Ayatullah Ali Khamenei dan beberapa jenderal Iran sebagai perbuatan keji dan kejam. Tindakan itu melanggar hak-hak asasi manusia, hukum internasional, dan bentuk terorisme nyata. Namun, kesyahidan Pemimpin Spiritual Iran tersebut justru menjadi amunisi baru bagi Iran untuk melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Selain mengerahkan kemampuan persenjataan besar yang dimilikinya dan kenyataannya melebihi data yang ada, Iran menemukan semangat baru untuk berperang. Rakyat Iran memiliki masa lampau yang jaya dan daya juang tinggi bangkit, marah dan berada di belakang Garda Revolusi untuk melawan, sehingga pihak oposisi dukungan Amerika Serikat akan tergilas,” ujar tokoh Muhammadiyah M. Din Syamsuddin dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (3/3/2026).
Akibatnya, kata Din, Israel dan Amerika Serikat akan kewalahan menghadapi situasi, dan boleh jadi akan mencari cara untuk menyerah atau menawarkan genjatan senjata. Hari-hari ke depan Tel Aviv dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan akan semakin hancur.
“Saatnyalah negara-negara Arab dan anggota OKI untuk menunjukkan solidaritas keislaman dan kemanusiaan mengenyahkan keangkuhan, ketakadilan, dan kezaliman Israel dan Amerika Serikat. Umat Islam sedunia cukup matang untuk tidak terpengaruh dengan politik divide et empera antara Sunni dan Syiah,” kata Din.
“Indonesia sesuai amanat konstitusi harus bersikap tegas melawan segala bentuk penjajahan di muka bumi, menentang agresi dan invasi sebuah negara ke negara lain. Saatnya Presiden Prabowo berpikir ulang untuk keluar dari Board of Peace bikinan Presiden Trump, dan menarik ucapannya yang keliru bahwa “keamanan Israel harus dijamin” karena itu berdasarkan logika terbalik,” tegas Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam tersebut.
Indonesia harus bersikap konsisten dan konsekwen menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan mengedepankan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian sejati serta tidak terjebak pada permainan politik global yg kolonialistik dan imperialistik.
“Presiden Prabowo Subianto perlu mengikuti jejak pendahulunya, seperti Presiden Sukarno dan Presiden Suharto, yang bersikap tegas dan lugas terhadap neo kolonialisme dan imperialisme (nekolim). Board of Peace adalah klaim perdamaian semu, dan sejatinya adalah Dewan Peperangan dan Penjajahan Baru,” pungkas Ketua World Peace Forum.












