Unik! Begini Tata Cara Ladosan Dhahar Dalem, Tradisi Makan Sultan Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai pusat budaya Jawa, tetapi juga memiliki tradisi unik dalam menyajikan hidangan untuk Sultan dan keluarga kerajaan.

Tradisi tersebut dikenal sebagai Ladosan Dhahar Dalem, sebuah prosesi yang telah berlangsung sejak dahulu dan masih dilestarikan hingga kini.

Melansir Kratonjogja.id, Sabtu (1/8/2026), Ladosan Dhahar Dalem bukan sekadar mengantarkan makanan.  Prosesi ini memiliki tata cara, perlengkapan, hingga makna filosofis yang mencerminkan penghormatan kepada Sultan sekaligus nilai-nilai budaya Jawa.

Ladosan Dhahar Dalem merupakan tradisi penyajian makanan bagi Sultan dan keluarga di lingkungan Keraton Yogyakarta. Setelah hidangan selesai dimasak, para Abdi Dalem datang ke dapur keraton untuk memulai prosesi membawa makanan menuju kediaman Sultan.

Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Keraton Yogyakarta dan dilakukan dengan tata cara khusus yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam prosesi Ladosan Dhahar Dalem, hidangan berupa nasi, lauk-pauk, sayur, hingga buah disusun ke dalam jodhang, yaitu kotak kayu khusus untuk membawa makanan.

Jodhang kemudian dipikul oleh dua orang Abdi Dalem Gladhag. Selama perjalanan, rombongan dipayungi payung berwarna kuning keemasan, sementara Abdi Dalem Keparak ikut mengiringi dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman pendamping.

Payung yang digunakan bukan hanya berfungsi melindungi hidangan, tetapi juga menjadi simbol permohonan kepada Tuhan agar makanan sampai dengan selamat sebelum disajikan kepada Sultan.

Seluruh iring-iringan kemudian menuju Keraton Kilen yang menjadi kediaman pribadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tradisi yang mengikuti zaman Meski tata cara dasarnya tetap sama, lokasi penyajian Ladosan Dhahar Dalem mengalami perubahan pada setiap masa pemerintahan Sultan. Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, hidangan disajikan di Gedhong Jene.

Para istri Sultan bersama para Bedhaya bertugas mengatur hidangan dengan berjalan menggunakan laku dhodhok, yakni berjalan jongkok sebagai bentuk penghormatan.

Setelah seluruh hidangan tersusun, mereka duduk bersila di dekat Sultan. Sementara pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, prosesi berlangsung di Gedhong Ngindrakila.

Saat itu, tiga orang Abdi Dalem menyajikan hidangan satu per satu di hadapan Sultan dan tetap bersiaga selama beliau bersantap. Pada masa tersebut juga terdapat Abdi Dalem Oceh-Ocehan, yang bertugas menemani Sultan dengan percakapan ringan.  Tradisi ini dipercaya menjadi salah satu cikal bakal lahirnya seni humor atau Dagelan Mataram.

Perlengkapan makan Sultan yang istimewa

Ladosan Dhahar Dalem menggunakan perlengkapan makan khusus yang berbeda dari peralatan sehari-hari masyarakat umum. Perlengkapan makan terdiri atas piring berbagai ukuran, mangkuk porselen untuk makanan berkuah, tempat nasi (cething), wadah buah (aglik), hingga wijikan sebagai tempat mencuci tangan. Sementara itu, sendok sayur, sendok makan, garpu, dan pisau diletakkan di atas nampan berbahan emas.

Untuk perlengkapan minum digunakan satu set cangkir keramik berwarna merah muda, teko bergagang emas, tempat gula, dan sendok emas yang juga disusun di atas nampan emas berbentuk oval. Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, perlengkapan minum turut dilengkapi ceret khusus bernama Kyai Miji.

Keraton Yogyakarta menjelaskan bahwa secara umum tata cara Ladosan Dhahar Dalem memiliki pola yang sama pada setiap masa pemerintahan Sultan. Namun, pelaksanaannya tidak bersifat kaku. Urutan prosesi maupun beberapa ketentuan dapat disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing Sultan, sehingga tradisi tetap terjaga tanpa kehilangan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.

Ladosan Dhahar Dalem menjadi salah satu warisan budaya tak benda Keraton Yogyakarta yang memperlihatkan bagaimana makanan tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi juga bagian dari tata krama, penghormatan, dan simbol spiritual dalam kehidupan kerajaan.

Melalui tradisi ini, Keraton Yogyakarta terus menjaga nilai-nilai budaya Jawa agar tetap hidup dan dapat dikenal oleh masyarakat luas hingga sekarang.

(Sumber)