Pemerhati politik dan kebangsaan, M Rizal Fadillah, menilai pernyataan mantan Kepala BIN A.M. Hendropriyono terkait dalang kerusuhan 25 Agustus 2025 tidak lebih dari ocehan asal bunyi (asbun). Ia menyebut tudingan Hendro yang mengaitkan aktor asing maupun kelompok penyerang Gibran Rakabuming sebagai pengacau hanyalah upaya pengalihan.
“Pernyataan Hendro sangat tendensius, seolah melempar masalah keluar negeri agar tidak menyentuh dalang lokal. Justru bisa jadi dalang sebenarnya terhubung dengan Hendro sendiri,” ujar Rizal dalam keterangan tertulisnya kepada Radar Aktual, Jumat (5/9/2025).
Menurut Rizal, kerusuhan yang menewaskan sekurangnya 9 warga sipil itu tidak murni aspirasi rakyat, melainkan dioperasikan oleh badan intelijen serta aparat keamanan. Ia menyoroti bagaimana operasi klandestin kerap menyusup ke ruang gerak aksi masyarakat.
Rizal menambahkan, tudingan Presiden Prabowo Subianto soal makar dan terorisme juga tidak konsisten. “Buktinya Prabowo masih santai pergi menonton defile di Cina. Kalau benar makar, mestinya dia langsung gerakkan semua jaringan untuk tangkap dalang. Termasuk bila mencurigai Gibran, Kaesang, atau bahkan Jokowi,” katanya.
Ia mengingatkan, desakan pemakzulan Gibran yang datang dari sejumlah purnawirawan TNI seperti Tyasno Sudarto, Hanafi Asnan, atau Try Sutrisno bukanlah gerakan makar, melainkan kritik konstitusional.
Lebih jauh, Rizal mengutip perhatian serius dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang melalui juru bicara OHCHR Ravina Shamdasani meminta pemerintah Prabowo mengusut dugaan pelanggaran HAM dalam tragedi kerusuhan tersebut.
“Jangan sampai PBB justru menyimpulkan tiga nama—Jokowi, Gibran, dan Prabowo—sebagai tokoh pelanggar HAM yang patut mendapat sanksi dunia,” tegasnya.
Ia menyebut pernyataan Hendropriyono justru membuat situasi semakin ruwet. “Ocehan Hendro kabur, tendensius, dan menambah ruwet penyelesaian. September bulan hitam, intel melayu yang kurang bermutu sedang bermimpi kudeta,” tutup Rizal.












