Aktivis 98 sekaligus alumni GMNI, Firman Tendry Masengi, melontarkan kritik keras terhadap fenomena kesalehan ritualistik yang menurutnya telah menggerogoti inti kemanusiaan dalam beragama. Dalam tulisannya berjudul “Agama Pembebasan: Melawan Kesalehan yang Membunuh Kemanusiaan,” ia menilai bahwa sebagian umat Islam hari ini terjebak pada simbol dan ritus, namun kehilangan empati sosial yang merupakan inti ajaran agama.
Firman menegaskan, agama kini sering dipamerkan seperti “etalase perhiasan,” sementara pesan pembebasan dan keadilan yang menjadi roh ajaran Islam justru terkubur. Ia mengutip hadits “khairunnās anfa‘uhum lin-nās” sebagai dasar bahwa keberagamaan seharusnya diukur dari manfaat nyata bagi sesama, bukan dari kemegahan ritual.
Dalam pandangannya, shalat yang seharusnya menjadi pilar perubahan moral kini menjelma menjadi rutinitas mekanis. Saf yang lurus tidak lagi mencerminkan persaudaraan, dan sujud panjang tidak selalu berkorelasi dengan kepekaan sosial.
Firman menggambarkan ironi tersebut dengan tajam:
“Umat menekuk punggung di hadapan Tuhan, namun menegakkan dada di hadapan sesama yang dihancurkan ketidakadilan.”
Masjid-masjid megah menurutnya sering kali berdiri gagah seperti istana, tetapi suara kaum miskin tidak pernah mendapat ruang. Ia menyebut adanya “neraka dunia” yang justru diciptakan oleh struktur sosial yang timpang—mulai dari upah murah, perampasan tanah rakyat, hingga pekerja migran yang pulang dalam peti mati.
Firman dengan nada satir menyoroti maraknya “kesalehan kosmetik,” yaitu kesalehan simbolik yang menutupi perilaku koruptif dan tidak adil. Ia menggambarkan fenomena orang yang rajin beribadah namun tetap merancang korupsi, mengeksploitasi buruh, atau tidak peduli pada penderitaan sosial.
“Ritual tanpa kemanusiaan bukanlah kesalehan—itu karikatur agama,” tegasnya, Kamis (4/12/2025).
Ia mengutip pemikiran Gustavo Gutiérrez, teolog pembebasan Amerika Latin, yang menolak teologi yang steril dari perjuangan sosial. Doa, menurut Gutiérrez, adalah tindakan historis—ia menuntut perubahan nyata, bukan pelarian spiritual.
Firman kemudian menawarkan pendekatan teologi pembebasan, di mana shalat dipahami sebagai deklarasi revolusi moral:
-Allahu Akbar sebagai penolakan terhadap tirani dan keserakahan,
-Hayya ‘alal falaah sebagai panggilan menuju kemenangan sosial,
-Assalāmu ‘alaikum sebagai komitmen nyata pada perdamaian dan keberpihakan.
Ia menilai, ketika shalat tidak lagi melahirkan aksi keadilan sosial, maka shalat itu kehilangan tubuhnya—menjadi suara tanpa wujud.
Firman menutup refleksinya dengan seruan tajam: hadits tentang manusia terbaik bukanlah pajangan motivasi, tetapi manifesto ideologis yang menghancurkan egoisme religius. Kesalehan, baginya, hanya sah jika berpihak pada manusia.
“Lebih banyak orang takut kehilangan surga daripada kehilangan nurani,” kritiknya.
Menurutnya, di Hari Pembalasan kelak, suara yang paling mengguncang bukanlah jeritan para pendosa, melainkan rintihan mereka yang pernah disiksa oleh tangan para ahli ibadah yang menciptakan “neraka sosial.”
Firman menutup dengan pertanyaan yang ia sebut paling jujur dan paling sulit dihindari:
“Apakah kita menyembah Tuhan atau menyembah ego?”












