News  

Dirut Namarin Bongkar Kekecewaan Dubes Iran di Jakarta terhadap Pemerintahan Prabowo

Siswanto Rusdi (IST)

Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, mengungkap adanya kekecewaan dari Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, terhadap sikap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Hal itu disampaikan Siswanto dalam sebuah podcast Forum Keadilan yang membahas dinamika geopolitik terbaru di Timur Tengah serta posisi diplomasi Indonesia, Senin (9/3/2026).

Menurut Siswanto, Dubes Iran di Jakarta merasa kecewa karena pemerintah Indonesia tidak secara tegas mengecam serangan Amerika Serikat yang disebut-sebut mengebom sebuah sekolah di Teheran yang menyebabkan korban jiwa, termasuk anak-anak sekolah.

“Banyak pemimpin dunia yang mengecam serangan tersebut. Namun Indonesia hanya menyampaikan ungkapan belasungkawa setelah wafatnya pemimpin agung Iran, Ali Khamenei, dan itu pun dinilai terlambat oleh pihak Iran,” ujar Siswanto.

Ia menjelaskan, bagi Iran, Indonesia selama ini dipandang sebagai negara sahabat yang memiliki hubungan baik dan solidaritas di berbagai isu internasional. Karena itu, sikap Jakarta yang dianggap kurang tegas memunculkan rasa kekecewaan di kalangan diplomatik Iran.

“Bagi Iran, ini mengecewakan. Mereka merasa Indonesia adalah teman baik, tetapi sikapnya tidak seperti yang mereka harapkan,” kata Siswanto.

Siswanto juga menyinggung posisi Indonesia yang dinilai Iran semakin sulit dipahami setelah Jakarta disebut bergabung dalam skema atau blok tertentu yang dianggap berseberangan dengan kepentingan Iran.

Selain itu, ia mengkritik gagasan Indonesia yang menawarkan diri sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan Iran dan kekuatan Barat.

“Indonesia menawarkan diri menjadi mediator. Tapi dari sudut pandang Iran, pertanyaannya sederhana: siapa Indonesia dalam konteks konflik ini?” ujar Siswanto.

Menurutnya, pemerintah Indonesia perlu lebih realistis membaca posisi geopolitik global. Ia menilai ada kecenderungan sebagian elite di Jakarta merasa Indonesia sangat dibutuhkan oleh Iran, padahal dalam praktik diplomasi internasional, hal itu belum tentu benar.

“Jangan sampai kita mengalami ilusi seolah-olah Iran sangat membutuhkan Indonesia. Itu tidak tepat,” kata Siswanto.

Ia menambahkan, langkah diplomasi Indonesia seharusnya disusun dengan mempertimbangkan kepentingan strategis nasional serta sensitivitas hubungan bilateral dengan negara-negara sahabat di kawasan Timur Tengah.